5 Pendidikan Pesantren yang Jarang Diketahui Masyarakat Umum

Peran Pondok Pesantren tidak bisa diabaikan begitu saja dari sejarah dan budaya Indonesia, karena pondok memiliki peran penting dalam pendidikan dan penyebaran agama islam di Indonesia. Pondok pesantren diketahui sebagai suatu tempat untuk para santri guna menimba ilmu agama, dimana yang membedakan adalah para santri juga tinggal menetap di pondok hingga santri tersebut lulus dari pendidikannya.

Tempatnya juga memiliki ciri khas dimana kebanyakan suatu pondok itu adalah tertutup (memiliki tembok tinggi mengitari pondoknya) untuk mengatur keluar dan masuk santri ketika ke pondok. Namun tahukah kalian tentang pendidikan tersirat yang ada di pondok pesantren dan belum tentu didapatkan di lembaga ataupun tempat lainnya?

Inilah beberapa pendidikan tersembunyi yang tidak akan kalian dapatkan jika kalian belum mondok.

1. Belajar Gotong Royong

Belajar gotong royong dengan Budaya Ro’an (Bersih Bersih/Kerjabakti Bersama) yang dilakukan setiap minggunya bahkan Setiap Hari. Gotong royong adalah budaya baik yang sudah menjalar dan turun temurun di Indonesia yang harus selalu dilestarikan. Karena dengan gotong royong tersebut, akan memupuk rasa empati dan saling bekerja sama bahkan menimbulkan sikap saling menolong sebagai mahluk sosial.

Fitrah manusia adalah mahluk sosial, yang membutuhkan bantuan orang lain, sehingga dengan belajar gotong royong yang ditanamkan oleh pondok pesantren berupa ro’an akan terbiasa dengan budaya ini dan tidak kagok dengan kehidupan nyata dalam bermasyarakat.

2. Pendidikan Ta’dzim

Pendidikan pondok pesantren untuk selalu ta’dzim (menghormati) para Kyai (pengasuh pondok pesantren) bahkan kepada semua keluarga Ndalem (keluarga kyai) adalah pelajaran yang tidak banyak diajarkan atau tidak banyak dipraktekkan langsung di lembaga lembaga pendidikan.

Sikap itu timbul dengan sendirinya, karena wibawa dan tingginya keilmuan para Kyai, sehingga hampir tidak mungkin setiap santri tidak men-Ta’dhimii para Kyainya.

Modal moral inilah yang bisa dibawa oleh para santri yang telah lulus dari pondoknya, untuk selalu mengamalkan dengan menghormati setiap orang yang lebih tua daripada mereka, sehingga tidak mudah menyombongkan diri, dan mudah merendahkan orang lain.

3. Ngalap Barokah

Ngalap Barokah adalah istilah dalam Bahasa Jawa yang berarti Berharap Mendapatkan Berkah Melalui Kyai di Pondok Pesantren yang jika di Indonesiakan artinya Berharap Mendapatkan Barokah.

Hal ini biasa diimplementasikan dengan melakukan aktivitas yang berhubungan dengan kegiatan didalam pondok, semisal menyapu, membawakan kitab Kyai, membersihkan kamar mandi, membersihkan mushola, dll.

Maka dengan jalan aktifitas tersebut, para santri berharap akan mendapatkan barokah ilmu yang bermanfaat, atau setidaknya ketularan kealiman dari para Kyainya.

Mencari keridhaan Allah itu bisa dicari dari hal apa saja, sehingga melalui aktifitas tersebut Allah akan ridha kepada santrinya dan memberikan keberkahan ilmunya. Itulah pendidikan yang bisa diterapkan pada kehidupan nyata di masyarakat umum oleh para santri ketika sudah terjun secara langsung. Bahwa untuk mencapai segala sesuatu, hal-hal baik pun perlu dilakukan sebagai cara untuk mencapai sesuatu yang dituju.

4. Budaya Mayoran

Budaya Mayoran mengajarkan santri untuk saling berbagi satu sama lain dalam berbagai hal, baik materi maupun non materi. Apalagi pada zaman sekarang ini, jarang terlihat suasana saling berbagi satu sama lain karena faktor keserakahan dan ketamakan serta hanya mementingkan diri sendiri.

Coba bayangkan, jika setiap orang bisa berbagi rezeki dengan orang lain. Maka, bisa kita pastikan bahwa angka kemiskinan sudah tidak ada di negeri ini, atau bahkan tingkat korupsi tidak semakin meningkat setiap tahunnya.

Budaya Mayoran pun tidak mengenal kamu siapa atau seberapa tinggi pangkatnya. Jika kalian kelihatan, maka sebisa  mungkin santri yang lain akan mengajak bahkan sedikit meminta agar kamu juga ikut nimbrung dan ikut menikmati rezeki gratis tersebut. Bayangkan alangkah indahnya jika hal itu ada pada setiap moral anak bangsa.

5. Belajar Hidup Sederhana dan Bertanggung Jawab

Kenapa setiap orang harus belajar hidup sederhana? Bukankah jika ingin menjadi orang besar, seseorang harus berfikir besar pula? Mungkin itu yang muncul dalam benak beberapa orang, sehingga dalam kehidupannya pun bergaya seperti orang kaya ataupun orang besar.

Namun apakah kalian juga berfikir, bahwa sebelum seseorang itu benar-benar menjadi orang besar dan kaya, mereka tidak serta merta langsung menjadi kaya, melainkan membutuhkan proses dari bawah terlebih dahulu.

Hal inilah yang ingin ditanamkan pada setiap santri yang menimba ilmu di pondok pesantren agar mampu hidup sederhana, guna belajar dan bisa merasakan rasanya menjadi orang yang kekurangan.

Sehingga seorang santri jika sudah lulus, bisa lebih prihatin dan tidak hidup dalam kemewah-mewahan atau berfoya-foya. Selain itu, para santri juga mau tidak mau ditanamkan untuk bertanggungjawab, seperti terkait pakaiannya yang harus dicuci sendiri, kebersihan kamarnya, dll.

Hal tersebut untuk mendidik agar para santri nantinya tidak mengandalkan dan bergantung pada orang lain, sehingga bisa mandiri dan tanggungjawab terhadap diri dan kebutuhannya sendiri.

Itulah beberapa pendidikan tersembunyi yang kerap kali tidak diketahui masyarakat secara umum. Padahal, pola pendidikan pesantren tersebut sangat berdampak pada santri-santri kelak ketika mereka sudah hidup bermasyarakat.

SUBSCRIBE
Subsribe sekarang dan dapatkan UPDATE terbaru melalui Email.
Berhenti Subscribe Kapanpun!
POS Lainnya:

Tinggalkan Komentar

avatar

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan pengalaman setiap pengunjung SETUJU & TUTUP Lihat Privasi