5 Perlombaan 17 Agustus Ini Sebetulnya Memiliki Makna Mendalam, Mengingat Jaman Penjajahan Belanda dan Jepang

17 Agustus adalah hari kemerdekaan Indonesia. Tak terasa di tahun 2019 ini, Indonesia sudah menginjak usia merdeka yang ke-74 tahun. Setiap tahun masyarakat Indonesia begitu antusias dan semangat untuk merayakannya. Banyak sekali acara- acara yang diadakan dalam rangka menyambut 17 Agustus, mulai dari upacara bendera, pawai, dan berbagai perlombaan.

Adapun yang menjadi ciri khas dan tradisi dalam hari kemerdekaan ini yaitu adanya perlombaan yang diadakan setiap tahunnya, di berbagai wilayah di Indonesia. Biasanya lomba ini diadakan per Rukun Warga alias per-RW di setiap wilayah.

Ternyata di balik perlombaan tersebut, terdapat makna dan nilai sejarahnya tersendiri. Selain untuk hiburan, diadakannya berbagai macam lomba tersebut untuk mengingat seberapa kerasnya perjuangan masyarakat Indonesia menghadapi masa penjajahan Belanda pada saat itu.

Perlombaan 17 Agustus Bersejarah

Berikut ini perlombaan yang mengandung makna dan nilai sejarah di baliknya.

Lomba Makan Kerupuk

Lomba makan kerupuk ini selalu diadakan dalam setiap lomba 17 Agustus. Tata cara lomba makan kerupuk itu sendiri yaitu dengan cara memakan langsung kerupuk yang digantung sampai habis dengan cepat, lalu kedua tangan peserta ditaruh ke belakang.

Namun, di balik lomba yang seru ini, terdapat sejarah kelam di dalamnya. Konon pada masa kolonial Belanda, rakyat Indonesia mengalami kesulitan soal pangan. Dan setelah masa penjajahan Belanda, rakyat Indonesia masih mengalami kesulitan pangan dikarenakan perekonomian belum stabil.

Lomba Balap Karung

Lomba balap karung ini memiliki inovasi tersendiri dalam setiap lombanya. Pada awalnya, lomba ini hanya diadakan untuk orang dewasa saja dengan cara loncat- loncat dalam karung goni sebanyak satu putaran dengan cepat. Siapa yang sampai duluan, dialah pemenangnya.

Seiring dengan berkembangnya zaman, lomba ini diadakan untuk anak kecil juga. Tata cara bermainnya pun berbeda, yaitu peserta menggunakan helm lalu masuk ke dalam karung besar (bukan karung goni) lalu diikat belakangnya. Ya kalau dilihat-lihat jadi kayak ulat pas jalannya.

Lomba balap karung ini menggambarkan betapa pedihnya kehidupan rakyat Indonesia pada masa penjajahan, terutama pada masa penjajahan Jepang.

Pada masa Romusha, rakyat Indonesia benar-benar miskin sampai-sampai tidak bisa memenuhi kebutuhan sandang. Hanya karung gonilah yang bisa diperoleh dan ditemukan kala itu di Indonesia.

Lomba Tarik Tambang

Lomba tarik tambang mengandung maknanya tersendiri. Selain adu kekuatan, lomba ini juga memerlukan kekompakan di dalam timnya.

Melalui lomba tarik tambang ini, para peserta secara tidak langsung belajar mengenai gotong royong, kebersamaan, dan solidaritas.

Panjat Pinang

Sama halnya dengan tarik tambang, panjat pinang pun memerlukan kerja sama dalam tim. Jika salah satunya tidak kompak dalam tim tersebut, maka semua peserta dalam tim tersebut akan terjatuh.

Zaman dulu, panjat pinang merupakan ajang hiburan saat perayaan- perayaan penting kolonial Belanda di Indonesia, seperti pesta pernikahan.

Lomba ini bisa dibilang lomba yang kontroversial pada saat itu, karena penduduk pribumi berlomba- lomba mendapatkan hadiah berupa bahan pangan yang digantung di puncak pohon pinang.

Lomba Egrang

Mungkin lomba yang satu ini sekarang-sekarang sudah jarang diadakan. Engrang sendiri merupakan permainan tradisional yang terbuat dari bambu.

Konon katanya lomba ini khusus diciptakan dengan tujuan untuk mengejek para penjajah. Diketahui dari Good News From Indonesia, Sejarahwan dan Budayawan JJ Rizal menjelaskan bahwa lomba engrang ini memiliki makna ejekan yang bertujuan untuk mencibir orang Belanda yang umumnya bertubuh tinggi (jangkung).

Selain itu, permainan engrang ini tersirat pesan bahwa kita harus hati-hati dalam melangkah agar tidak terjatuh saat berjalan.

tunggu sebentar...
POS Lainnya:

Tinggalkan Komentar

avatar

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan pengalaman setiap pengunjung SETUJU & TUTUP Lihat Privasi