7 Cara mengatasi inner critic untuk kesehatan mental

0

Pernahkah kamu menolak suatu kesempatan yang ditawarkan, karena ada suara dalam dirimu yang mengatakan bahwa kamu tidak cukup pantas menerimanya atau mendapatkannya? Padahal, kalau dipikir-pikir, sebenarnya kamu mampu untuk menerima kesempatan itu. Namun, apa yang terjadi? Karena suara-suara negatif itu terus mengatakan sesuatu yang mempengaruhi mentalmu, menjadikan mental block yang akhirnya menghalangimu dari kesempatan bagus dalam hidupmu. Jujur saja, pada hari-hari tertentu dalam hidup kita, harga diri kita cenderung naik turun bagai mendaki bukit dan lembah. Suatu momen, kita mungkin merasa percaya diri dan puas, selanjutnya kita mungkin merasa tidak aman dan gelisah.

Namun, penting untuk diingat, bahwa persepsi diri kita sering kali tidak didasarkan pada apa yang sebenarnya terjadi dalam hidup kita, melainkan pada distorsi internal negatif yang dikenal sebagai “kritik batin dalam diri” kita, menurut Lisa Firestone Ph.D, seorang Psikologi Klinis yang ahli dalam hal ini.

Suara kritik dalam diri adalah pola pikiran negatif yang terintegrasi terhadap diri kita sendiri dan orang lain. Selain membayangi perasaan diri kita, musuh internal ini sering kali menjadi akar dari perilaku maladaptif kita. Kita mengalami “suara” ini bukan sebagai halusinasi pendengaran, tetapi sebagai serangkaian pemikiran dan sikap yang mempertanyakan, kritis, dan membatasi diri (membuat mental block) yang muncul sepanjang hari.

ads by posciety

Untuk memahami bagaimana “inner critic” ini mempengaruhi mental kita, ada baiknya untuk terlebih dahulu melihat asal-usulnya. Kritikus batin kita ini dibentuk dari pengalaman hidup awal yang diinternalisasi dan mempengaruhi rasa identitas kita. Sama seperti pengalaman positif cinta, kehangatan, dan keamanan yang membantu membentuk rasa positif diri kita, maka pengalaman hidup negatif memberikan kritik dalam batin kita. Dalam upaya untuk memahami pengalaman yang menyakitkan atau menyedihkan, pikiran kita menarik kesimpulan tentang siapa kita dan bagaimana orang akan memandang kita.

Sikap menyakitkan yang kita dapatkan dari orang tua atau pengasuh utama kita, serta interaksi menyakitkan dengan teman sebaya, saudara kandung, atau orang dewasa yang berpengaruh, semuanya dapat berpengaruh untuk membentuk “inner critic” kita.

Namun, kabar baiknya adalah, jika kamu cenderung terlalu kritis terhadap diri sendiri, kamu tidak sendirian. Karena banyak orang mengalami keraguan diri dan melakukan refleksi diri yang keras atau terlalu mengkritik diri mereka sendiri. Untungnya, kamu dapat mengambil langkah-langkah proaktif untuk mengatasi “inner critic” itu dan menggantinya dengan dialog yang lebih positif dengan dirimu sendiri. Dikutip dari Forbes, berikut ini adalah 7 cara mengatasi inner critic untuk kesehatan mental:

  1. Kembangkan kesadaran akan pikiranmu sendiri. Kita begitu terbiasa mendengar narasi kita sendiri sehingga tidak menyadari pesan apa yang kita kirimkan kepada diri sendiri. Perhatikan apa yang kamu pikirkan dan sadari bahwa hanya karena kamu memikirkan sesuatu, tidak berarti hal itu benar.
  2. Berhenti merenungkan kesalahan terus menerus. Saat kamu membuat kesalahan atau mengalami hari yang buruk, kamu mungkin tergoda untuk memutar ulang peristiwa tersebut berulang kali di kepalamu. Maka, alihkan perhatianmu dengan aktivitas seperti berjalan-jalan, mengatur meja kerjamu, atau membicarakan topik menarik lain yang jauh dari hal itu. Ini akan menghentikan “inner critic”-mu sebelum lepas kendali.
  3. Tanyakan pada dirimu sendiri, nasihat apa yang akan kamu berikan kepada seorang teman. Jika seorang teman mengungkapkan perasaan ragu-ragu, tentu saja kamu tidak akan mengatakan, “Kamu tidak akan pernah bisa melakukan sesuatu dengan benar” atau “Kamu sangat bodoh. Tidak ada yang menyukaimu.” Tidak mungkin, bukan?

Namun, kita seringnya lebih cepat mengatakan hal-hal itu kepada diri kita sendiri. Sebaliknya, kamu akan lebih cenderung menawarkan kata-kata penyemangat yang penuh kasih kepada teman seperti, “Kamu membuat kesalahan, tetapi ini bukan akhir dunia”, atau “Kecil kemungkinan hasil pekerjaan hari ini benar-benar membuatmu dipecat”. Perlakukan dirimu sama baiknya seperti kamu memperlakukan teman dan katakan kata-kata penyemangat itu dalam hidupmu. Be kind to yourself.

  1. Periksa lagi buktinya. Belajarlah untuk mengenali ketika “inner critic” dalam dirimu terlalu negatif. Jika kamu berpikir, “Saya tidak akan pernah bisa mendapatkan pekerjaan yang saya impikan,” periksa bukti yang mendukung hal ini dan menyangkal prediksi ini. Dan akan sangat membantu untuk menuliskannya di jurnal harian. Memisahkan persepsi kita dengan bukti logis yang akan menyangkal pikiran negatif tersebut.
  2. Ganti pikiran yang terlalu kritis dengan pernyataan yang lebih akurat. Ubah pikiran yang terlalu pesimistis menjadi pernyataan yang lebih rasional dan realistis. Misalnya, ketika kamu mendapati dirimu berpikir, “Saya tidak pernah melakukan sesuatu dengan benar,” gantilah dengan pernyataan seimbang seperti, “Terkadang saya melakukan sesuatu dengan sangat baik dan terkadang tidak.” Jadi, setiap kali kamu mendapati dirimu memikirkan pikiran negatif yang berlebihan, tanggapilah dengan pernyataan yang lebih akurat.
  3. Pikirkan bahwa itu tidak seburuk dugaanmu. Terkadang kita tergoda untuk membayangkan sebuah kecelakaan yang berubah menjadi malapetaka yang parah. Namun seringnya adalah skenario terburuk sebenarnya tidak seburuk yang kita bayangkan. Itulah faktanya. Coba ingat-ingat pengalaman mana yang telah menyadarkanmu akan hal ini? Jadi, mengingatkan diri sendiri bahwa kamu dapat mengatasi masa sulit atau masalah, dapat meningkatkan kepercayaan diri dan mengurangi rentetan pikiran khawatir yang tidak perlu.
  4. Seimbangkan penerimaan diri dengan perbaikan diri. Ada perbedaan antara selalu mengatakan pada diri sendiri bahwa kamu tidak cukup baik dan mengingatkan diri sendiri bahwa kamu dapat terus mencoba untuk menjadi lebih baik. Terima kekuranganmu apa adanya, sambil terus mencoba meningkatkan kemampuan dirimu di bidang yang menjadi kelebihanmu. Ini akan menyelamatkanmu dari membuang waktu mengkritik diri sendiri ke hal yang lebih berguna yang akan meningkatkan kualitas dirimu.

Sampai di sini, akhirnya “Inner critic” dalam diri kita sebenarnya tidak betul-betul bersalah dalam hal ini, karena berguna untuk mengingatkan apa yang kurang dari diri kita sehingga menyadarkan kita untuk terus meningkatkan kemampuan diri. Namun, jika “inner critic” itu sudah melewati batas alias terlalu negatif dan malah membuat kita jadi tidak berkembang dan melepaskan kesempatan bagus dalam hidup, maka sudah saatnya untuk mengendalikan “inner critic” ini dengan 7 cara mengatasi inner critic untuk kesehatan mental diatas. Semoga bermanfaat!

Artikel Lainnya
Komentar

Email kamu tidak akan dibagikan kepada siapapun

Website ini menggunakan cookie untuk pengalaman yang lebih baik Setuju & Tutup Selengkapnya