8 Perdebatan yang Sering Terjadi dalam Rumah Tangga

0

Pernikahan adalah moment bahagia setiap insan, setiap rumah tangga pasti ingin hubungan didalamnya harmonis dan awet hingga akhir hayat. Tapi selalu saja terjadi perdebatan didalamnya hingga akhirnya menimbulkan perceraian. Kasus perceraian yang terjadi di Indonesia paling banyak terjadi di daerah Jawa tengah. Menurut datadoks, Jawa Tengah tercatat sebagai provinsi yang memiliki jumlah perceraian tertinggi pada 2020. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ada 65.755 perceraian yang terjadi di Jawa Tengah pada tahun lalu. Posisi selanjutnya ditempati Jawa Timur dan Jawa Barat dengan perceraian masing-masing sebanyak 61.870 dan 37.503. Perceraian yang terjadi disebabkan akibat beberapa faktor yang sangat mempengaruhi kehidupan rumah tangga, berikut beberapa perdebatan yang paling sering terjadi dalam rumah tanggga.

A. Adanya Faktor “Ikut Campur”

Adanya orang yang ikut campur paling banyak dibenci oleh semua orang yang berumah tangga. Baik itu oleh keluarga sendiri, teman, atau saudara. Terkadang jika kita sedang bertengkar dengan pasangan, lalu ada orang yang ikut campur maka akan semakin runyam dan tidak menemukan titik terang, mungkin saja ada yang memperkeruh masalah bukan memperbaiki masalah. Kita tidak tahu hati setiap manusia, apakah mereka benar-benar baik atau sekedar pura-pura saja. Lebih baik jika sedang bertengkar dengan pasangan, tidak perlu diumbar ke sosial media.

ads by posciety

Sebaiknya tidak perlu orang lain mengetahui masalah pribadi kita, karena pertengkaran dalam rumah tangga memang sangat sensitif untuk dibahas ke sosial media, ada yang mendukung ada juga yang senang melihat rumah tangga yang hancur.

B. Faktor Tempat Tinggal

Terkadang tempat tinggal menjadi salah satu pemicu perdebatan dalam rumah tangga, karena ada pasangan yang tidak menerima keadaan dan tidak mempunyai modal untuk membeli rumah. inilah yang sering menjadi perdebatan dalam rumah tangga, diantara keduanya tidak mau tinggal dengan orang tua. Biasanya jika kalian baru menjadi pasangan suami istri mengambil cara mengontrak rumah yang sederhana. Kalian yang tidak mempunyai modal untuk membeli rumah secara cash, sekarang bisa membeli secara kredit bisa melalui bank atau melalui perumahan subsidi.

C. Faktor Ekonomi

Dimasa yang sulit ini, kebutuhan semakin banyak sementara di luar sana harga kebutuhan pokok semakin meningkat. Biasanya hal ekonomi banyak dikeluhkan oleh seorang istri, karena mereka ingin cantik, ingin membeli pakaian, kosmetik dan lainnya yang diinginkan, sementara dana tidak mencukupi. Hal tersebut menjadi pemicu perdebatan karena segala yang dibeli itu membutuhkan uang. Maka dari itu para suami harus menjadi lebih giat dalam membahagiakan seorang istri. Setidaknya ada untuk membeli makanan sehari-hari.

D. Faktor Keluarga

Ketika kalian sudah mempunyai pasangan hidup, pasti kalian akan dipertemukan dengan keluarga yang lainnya. Setelah menikah kita harus bisa menyesuaikan diri dengan keluarga masing-masing. Memang di awal pernikahan kita masih canggung terhadap satu sama lain, terkadang dari rasa canggung itu ada saja saudara atau orangtua yang membicarkan kita, ada yang terdengar enak dan ada pula yang terdengar menyakitkan, oleh karena itu jika sudah berumah tangga lebih baik memisahkan diri, atau mengambil rumah dan tinggal berdua dengan pasangan kalian. Tidak ada salahnya jika kita menghindar untuk kenyamanan hati, daripada kita mendengar kalimat yang menyakitkan.

E. Faktor Komunikasi

Komunikasi di masa sekarang sudah sangat mudah melalui aplikasi sejuta umat whatsapp atau aplikasi lainnya. Bagi yang sudah serumah dan berpasangan wajib sekali berkomunikasi agar selalu terjaga dari segala hal yang tidak diinginkan. Karena zaman sudah semakin canggih terkadang pasangan dirumah lebih sibuk menggunakan handphone daripada mengajak berbicara dengan pasangannya, banyak yang tidak tahan melihat kelakuan pasangan yang sibuk dengan dunianya masing-masing sehingga memilih jalur perceraian.

F. Faktor Kecemburuan

Manusiawi jika seseorang yang saling mencintai mempunyai rasa cemburu. Kesalahan yang memicu rumah tangga hancur karena cemburu yang berlebihan pada suami/istri, hal ini disebabkan karena faktor lingkungan tempat kerja, dari sikap pasangan dan tutur bahasa nya yang sedikit berbeda dari biasanya, sehingga menimbulkan rasa negatif thinking pada pasangan. Maka dari itu dijelaskan seperti pada poin E diatas, dibutuhkan komunikasi setiap harinya agar tidak menyebabkan kejenuhan atau kesepian pada suami/istri kalian.

Komunikasi tidak hanya melalui handphone saja, tetapi komunikasi secara langsung atau mengobrol di teras pun akan terasa nyaman . Cemburu itu tidak salah tapi tergantung masalahnya apa, dan juga jangan terlalu berlebihan dalam menanggapi masalah, bisa saja kita salah paham terhadap sesuatu yang belum tentu benar kenyataannya.

G. Faktor Pertemanan

Berteman dengan siapa saja tidak jadi masalah asal kita tahu batasannya apalagi jika sudah berkeluarga, harus hati-hati dalam memilih teman dan juga memilih pergaulan. Rata-rata rasa cemburu dipicu dari pertemanan pasangan kita, ada saja teman yang tidak mempunyai rasa canggung padahal sudah berkeluarga, misal cium pipi kanan kiri ketika bertemu.

Seharusnya kita pun yang sudah berkeluarga sadar akan diri sendiri karena dalam sebuah rumah tangga harus saling menjaga perasaan satu sama lain tidak boleh egois hanya karena sebuah pertemanan. Tetap saja ada aturan dan batasan. Karena berteman itu memang bercampur ada laki-laki dan juga perempuan. Tergantung pasangan kalian menanggapi atau tidak.

H. Faktor Menikah Muda

Umumnya menikah itu berusia 25 tahun ke atas bagi laki-laki, dan usia 22 tahun bagi perempuan, tapi menikah itu harus berdasarkan kesiapan bukan karena melihat teman yang lain menikah jadi kita pun memaksakan kehendak untuk segera menikah, padahal banyaknya kasus perceraian itu karena menikah di usia yang masih muda dan pola pikir nya belum dewasa. Menikah muda memang ada bagusnya supaya terhindar dari maksiat, tetapi sangat disayangkan jika kita masih muda belum merasakan indahnya masa-masa single/tidak memiliki pasangan.

Di usia muda kita masih sangat butuh untuk bermain, bekerja, atau jaman sekarang sering nonkrong dengan teman. Coba bayangkan jika kita masih muda sudah menikah, pasti akan labil dan penuh pertengkaran karena pola pikir nya belum dewasa masih banyak ego. Maka dari itu, di usia muda manfaatkanlah keahlianmu dan perbanyaklah belajar atau membaca buku.

Percayalah, semua yang berumah tangga pasti berbeda-beda masalahnya tapi tetap saja pemicunya tidak jauh dari hal diatas. Selagi kamu ingin menjaga, pertahankanlah. Tapi jika kamu sudah tidak mampu bertahan lepaskanlah, karena kamu tidak akan bisa menggenggam piring yang sudah pecah, sekali pecah selamanya pecah tidak akan sempurna seperti semula, daripada sakit lebih baik buang. Bagi kalian yang belum menikah, jangan terburu-buru dalam mengambil keputusan. Kehidupan rumah tangga harus dengan sikap dan mental yang kuat karena didalamnya akan ada berbagai macam lika-liku yang harus dihadapi bersama selamanya. Sebelumnya terimakasi sudah membaca.

Artikel Lainnya
Komentar

Email kamu tidak akan dibagikan kepada siapapun

Website ini menggunakan cookie untuk pengalaman yang lebih baik Setuju & Tutup Selengkapnya