Apa Artinya Generasi Sandwich ?

0

Setiap manusia pasti memiliki beban hidupnya masing-masing. Bahkan ada yang harus menghidupi 3 keluarganya sekaligus, yaitu orangtua/ mertuanya, dirinya sendiri, dan juga anaknya. Orang tersebut masuk ke dalam kategori generasi Sandwich. Dilansir dari Gramedia, Sandwich generation awalnya diperkenalkan oleh Dorothy A. Miller yang merupakan seorang profesor sekaligus direktur praktikum dari Universitas Kentucky tahun 1981 dalam jurnal yang berjudul “The Sandwich Generation: Adult Children of The Aging.”

Jadi istilah generasi sandwich adalah suatu keadaan dimana seseorang memiliki tanggung jawab yang ganda untuk menghidupi dua generasi sekaligus. Dua generasi itu merupakan generasi atas atau orangtua atau mertua, dan juga generasi bawah yaitu anak kandung atau bahkan cucu.

Bagi mereka, orang-orang yang mengalami terjepit keadaan ini memilikii tanggung jawab untuk merawat orangtua dan juga anak-anaknya pada waktu yang bersamaan. Mereka bisa membantu orang yang mereka cintai dengan membagi tugas sehari-hari, memberikan pengobatan dan membantu dalam kesulitan baik itu keuangan, hukum dan juga emosional dari diri orang-orang yang mereka cintai.

ads by posciety

Dengan demikian, orang-orang yang termasuk dalam generasi sandwich yang dimaksud adalah generasu yang tidak hanya mengurus diri dan pasangan sendiri. Lebih dari itu, mereka juga turut menanggung beban generasi sebelum dan sesudahnya. Posisi yang berada di antara dua generasi itulah yang kemudian membuat seseorang diibaratkan seperti sandwich.

Munculnya Generasi Sandwich

Dilansir dari Kompas.com, Schlesinger dan Raphael dalam jurnalnya tahun 1993 pernah menjelaskan bahwa studi mengenai generasi sandwich berawal pada tahun 1981 di California. Kala itu, terdapat batasan subjek penelitian tentang generasi sandwich dengan kategori usianya, yaitu perempuan yang berada pada kategori middle age yakni berada pada kisaran umur 45-65 tahun.

Selanjutnya, di Toronto terdapat studi terkait generasi sandwich adalah dikategorikan tanpa membatasi usia individu untuk mengklasifikasikannya ke dalam generasi sandwich. Kendati demikian, penelitian tersebut juga menerapkan batasan khusus yaitu keberadaan anak dengan usia di atas 18 tahun dan memiliki tanggung jawab untuk menjaga/ merawat orangtua dan atau mertuanya.

Lebih lanjut, WR Hernandez, Marjanen P dan Riina K pada tahun 2019 menyepakati, sandwich generation artinya individu yang berada dalam kondisi fit untuk bekerja dan terjebak antara tanggung jawab keluarga dengan tanggung jawab profesional.

Adapun T Broady di tahun 2019 menjelaskan, generasi sandwich maksudnya yakni individu yang membagi sumber daya mereka untuk anak dan orang tuanya yang telah memasuki usia lanjut.

JN Migliaccio pada 2019 juga mengulas perkembangan terkait generassi sandwich itu apa. Ia menyoroti munculnya generasi milenial yang mulai berada di masa untuk merawat orangtuanya yang menua.

Dalam kondisi ini, maka dinamika definisi generasi sandwich bertransisi meluas menjadi kelompok generasi sandwich yang terdiri dari 4 generasi keluarga yang saling ketergantungan satu sama lain dalam beberapa hal.

Ciri-Ciri Generasi Sandwich Berdasarkan Perannya

1. The Traditional Sandwich Generation

The traditional sandwich generation yaitu orang dewasa yang berusia 40-50 tahun, diapit antara orang berusia lanjut dan anak-anak yang masih membutuhkan bantuan finansial.

2. The Club Sandwich Generation

The club sandwich generation yaitu orang dewasa yang berusia 30-60 tahun, diapit antara orangtua dan anak, serta cucu (jika sudah punya) atau nenek/kakek (jika masih hidup).

3. The Open Faced Sandwich Generation

The open faced sandwich generation yaitu siapapun (yang tidak termasuk profesional) yang terlibat dalam perawatan lansia.

Dampak Yang Dirasakan Generasi Sandwich

Dampak yang dirasakan dan didapat oleh generasi sandwich yaitu:

1. Tingkat kebahagiaan menurun

Ketika para generasi sandwich ini dihadapkan pada kewajiban untuk mengurus dan menghidupi anak serta orangtuanya. Tak jarang mereka akan merasa kewalahan dan merasa kewalahan dan merasakan beban yang lebih berat daripada rekannya yang bukan tergolong generasi sandwich. Hal ini berdampak pada tingkat kebahagiaan mereka yang menurun.

2. Kesulitan dalam membagi waktu untuk keluarga

Begitu banyak hal yang dipikirkan dan harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan finansial dua generasi, menyebabkan mereka jadi kesulitan untuk membagi waktu dengan baik bersama pasangan, orang tua dan anak mereka.

3. Sulit mengatur waktu untuk diri sendiri

Terkadang, mereka merasa tidak memiliki waktu untuk diri sendiri karena waktu mereka sudah dihabiskan untuk mencari nafkah dan merawat anak serta orangtua mereka.

4. Rentan merasa tertekan

Masalah psikologi ini juga rentan menghampiri mereka karena adanya tuntutan dari dua arah. Mereka harus memikirkan masalah anak dan orangtua secara bersamaan. Tidak jarang pula tekanan yang mereka rasakan datang dalam waktu yang bersamaan.

5. Kesulitan secara finansial

Tidak sedikit orang yang hidup dengan penghasilan yang pas-pasan dan terjebak dalam generasi sandwich ini. Untuk itu, mereka dituntut agar bisa merencakan keuangan dengan sebaik mungkin agar tetap dapat mencukupi kebutuhan rumah tangga, orangtua, dan juga anaknya.

6. Perasaan bersalah atau merasa tidak puas

Meskipun, kita sudah bekerja keras, akan tetapi perasaan bersalah dan tidak puas bisa dirasakan. Perasaan ini muncul karena kebutuhan orangtua dan anak-anaknya tidak terpenuhi secara maksimal. Sedangkan segala tanggungan merupakan tanggungjawabnya.

Apabila perasaan bersalah ini dibiarkan maka akan berbahaya dan mengganggu kesehatan mental. Mereka yang merasakannya akan dengaan mudah menyalahkan diri sendiri dan juga belum bisa menghargai apa yang sudah dikerjakan. Perasaan bersalah ini juga menumbuhkan rasa pada seseorang yang mudah insecure dan sulit dalam hal mencintai diri sendiri.

7. Mudah merasa khawatir

Generasi sandwich juga akan merasa khawatir secara terus-menerus. Kekhawatiran akan masa depan diri sendiri, orangtua, dan juga anak-anaknya. Mereka biasanya khawatir akan hasil kerja yang sudah diberikan belum cukup untuk membiayai kesehatan orangtua, atau khawatir akan pendidikan yang diberikan kepada anak-anaknya belum maksimal karena keterbatasan biaya.

Generasi sandwich juga sering mengalami kekhawatiran sampai menyebabkan kecemasan yang berlebihan. Kecemasan ini apabila diabaikan, maka akan memuncak dan mengakibatkan depresi. Perasaan ini dapat dikurangi dengan membagi beban kepada orang lain.

Cara Memutus Rantai Generasi Sandwich

Kelak di masa tua nanti, kalian tidak mau kan hal yang sama terjadi pada anak kalian nantinya. Oleh karena itu, untuk memutus rantai generasi sandwich, ada beberapa cara yang bisa dilakukan yaitu:

Kelola Keuangan Dengan Bijak

Cara pertama yang bisa kalian lakukan yaitu mengelola keuangan dengan baik. Alokasikan penghasilan kalian menjadi beberapa bagian, misal untuk keperluan primer seperti makan, transport, dan lain-lain sebesar 50%, untuk keperluan sekunder seperti baju dan untuk entertain 30%, dan 20% untuk ditabung.

Catat pemasukan dan pengeluaran agar kalian mengetahui seberapa besar pengeluaran kalian setiap bulannya. Jika kalian ingin menabung dengan nominal yang cukup besar, usahakan kalian hidup hemat dan usahakan jangan berutang atau kredit apapun. Belanjalah sesuai dengan kebutuhan, jangan konsumtif berlebihan!

Siapkan Dana Pensiun dan Asuransi Kesehatan

Kebutuhan hidup akan terus ada meskipun kamu sudah tua. Sayangnya, ketika lansia, nggak cuma fisik yang menua, tapi produktivitas secara ekonomi juga. Cara agar bisa hidup cukup saat tua adalah punya dana pensiun.

Kamu yang umumnya masih 20-30 tahunan mungkin masih merasa masa lansia tuh masih lama. Tapi apa salahnya menyiapkan masa tua yang bahagia dari sekarang, kan?

Beruntungnya, sekarang banyak lembaga keuangan yang bikin program pensiun. Tidak hanya pekerja, masyarakat umum juga bisa ikut program ini.

Di program ini, kalian membayar iuran tiap bulan sejak jadi peserta sampai berhenti bekerja. Nah, iuran kalian nantinya akan diinvestasikan oleh lembaga dana pensiun ke dalam campuran investasi yang aman. Jadi dananya bisa berkembang.

Selain itu, kalian juga diusahakan memiliki asuransi kesehatan, sehingga biaya pengobatan bisa ditangguhkan oleh asuransi sesuai dengan kontrak dan kesepakatan bersama. Jadi kalian tidak akan memerlukan biaya besar ketika harus berobat.

Menambah Sumber Penghasilan

Untuk memperbaiki kondisi keuangan, kalian juga bisa menambah sumber penghasilan. Kalau awalnya sumber pendapatan hanya dari gaji, mungkin kalian bisa coba buka bisnis, atau memiliki side job yang bisa menambah penghasilan.

Bicara Dengan Anggota Keluarga

Apabila kalian merasa terbebani dengan masalah kehidupan keluarga, ada baiknya dibicarakan dengan keluarga kalian. Memang bagi sebagian orang, membicarakan soal finansial ke anggota keluarga adalah suatu hal yang tak biasa, namun tidak ada salahnya jika kalian bersifat terbuka kepada keluarga kalian.

Jangan memaksakan menanggung kebutuhan orang tua di luar batas kemampuan. Apalagi sampai berutang. Makin nambah lagi beban finansial karena punya cicilan utang di bank. Coba terbuka saja, biar orang tua mengerti dan tidak salah paham menganggap kalian pelit atau tidak mau mengurus mereka.

Artikel Lainnya
Komentar

Email kamu tidak akan dibagikan kepada siapapun

Website ini menggunakan cookie untuk pengalaman yang lebih baik Setuju & Tutup Selengkapnya