Apa Itu Meteor Perseid? Benarkah Hujan Meteor Perseid di Langit Amerika dan Indonesia Tertutup Bulan Purnama?

Dunia antariksa selalu membuat takjub para penghuni bumi, dengan fenomena-fenomena indah di dalamnya. beberapa bahkan dapat dilihat dengan mata telanjang oleh penduduk di muka bumi. Bulan Agustus tahun ini misalnya, alam semesta menyuguhkan feonomena alam yang terlalu menarik untuk dilewatkan.

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaludin menuturkan bahwa, sepanjang 17 Juli hingga 24 Agustus 2019 akan terjadi hujan meteor perseid.

“Setiap tahun bumi berpapasan dengan gugusan debu sisa komet tersebut yang menyebabkan hujan meteor Perseids mulai 17 Juli sampai 24 Agustus,” tuturnya kepada laman Detik.Com, Selasa (13/8/19).

Asal Usul Perseid

Gambar 1 - asal usul perseid
img: Mashable.Com

Menurut Wikipedia.Com, Perseid adalah fenomena alam berupa hujan meteor yang sering dikaitkan dengan komet Swift-Tuttle. Dinamakan Perseid karena titik radian hujan meteor ini seolah-olah berasal dari arah rasi bintang Perseus.

Hujan meteor Perseid disebabkan oleh sisa-sisa debu komet Swift-Tuttle. Komet tersebut ditemukan pertama kali pada tahun 1862 dan mengelilingi Matahari setiap 130 tahun sekali.

Puncak hujan meteor Perseid terjadi sekitar 12 – 13 Agustus dengan jumlah meteor tampak sekitar 90 meteor per jam. Dengan menggunakan radar meteor, jumlah meteor yang terdeteksi bisa ratusan.

“Puncak hujan meteor Perseid terjadi pada 12 – 13 Agustus,” kata Thomas. Itu berarti, malam puncak hujan meteor Perseid telah berlalu tadi malam. Namun, pembaca tidak perlu bersedih, karena fenomena ini masih berlangsung hingga 24 Agustus 2109, meskipun terjadi penurunan jumlah meteor.

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, meteor-meteor Perseid berasal dari serpihan debu ekor komet Swift-Tuttle yang masuk ke atmosfer Bumi. Radar meteor mendeteksi jejak ionisasi di atmosfer pada ketinggian sekitar 70 – 110 km. Jejak ionisasi berasal dari debu-debu yang terbakar yang tampak seperti bintang yang melesat.

Selain itu, ada yang membuat hujan meteor Perseid ini lebih istimewa. Dibandingkan hujan meteor lainnya, hujan meteor Perseid punya jumlah meteor maksimum tergolong besar, bisa sampai 90 meteor per jam bila langit dalam kondisi sempurna.

Sumber hujan meteor Perseid juga berbeda dengan hujan meteor lain. Seluruh hujan meteor periodik berasal dari remah-remah komet, tapi hanya Perseid yang punya karakter hujan meteor kuat sementara komet induknya punya periode agak panjang. Menariknya, Perseid juga berpotensi memproduksi meteor terang atau fireball dalam puncak hujan meteornya.

Di Indonesia sendiri, fenomena ini bisa disaksikan di seluruh wilayah Indonesia antara rentang waktu pukul 22.00 – 05.00 WIB.

“Seluruh wilayah Indonesia dengan waktu lokal (22.00 – 05.00),” papar Thomas.

Dia menambahkan, hujan meteor ini aman untuk dilihat dengan mata telanjang. “Ya, dengan mata tanpa alat lebih baik, karena medan pandangnya lebih luas.”.

Namun ternyata, siapa sangka bahwa hujan meteor tahun ini ternyata lebih sedikit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya?

Masih dikemukakan oleh Thomas, jumlah hujan meteor Perseid tahun ini relatif sedikit dibandingkan tahun lalu. Biasanya, jumlahnya bisa mencapai 90 meteor per jam. Hal ini dikarenakan fenomena hujan meteor Perseid kali ini hampir berbarengan dengan Bulan purnama.

Indahnya Hujan Meteor Perseid Tertutup Bulan Purnama Di Langit AS

Gambar 2 - meteor perseid tertutup bulan purnama di amerika
img: Google

Bila di Indonesia terjadi penurunan jumlah meteor dikarenakan menjelang bulan purnama, lain halnya dengan penikmat fenomena ini di belahan Amerika. Mereka harus puas dengan hanya menyaksikan keindahan semesta ini pada waktu puncak saja, dikarenakan bulan purnama yang terjadi menutup indahnya hujan meteor Perseid.

Dikutip dari Space.Com, Sky Event Calendar (SkyCall) NASA memprediksi fenomena bulan purnama akan menghiasi langit malam tepat satu hari setelah puncak hujan meteor Perseid pada Kamis (15/8/2019).

Perhitungan ini berdasarkan pengamatan di kota New York, Amerika Serikat. Bulan purnama diprediksi akan muncul secara penuh pada pukul 8.29 waktu setempat atau pukul 19.29 WIB. Bulan purnama ini akan muncul di langit Amerika Serikat setelah tiga hari berotasi di sekitar Saturnus.

Dikutip dari Tirto.Id pada Senin (12/8/2019) kemarin, fenomena ‘gerhana’ hampir terjadi ketika bulan melewati Saturnus dan mencapai garis bujur langit yang sama. Namun, fenomena ini berselisihan yang akhirnya disebut sebagai konjungsi, pada pukul 6.05 pagi.

gambar 3 - fenomena meteor perseid
img: TribunNewsWiki.Com

Konjungsi itu sendiri tidak akan terlihat saat Saturnus muncul pada pukul 3.05 waktu setempat atau pukul 14.05 WIB pada tanggal 12 Agustus, di New York.

Sementara di Los Angeles, konjungsi akan berada pada pukul 02.05 waktu setempat atau pukul 13.00 WIB. Bulan akan berada tepat di utara Saturnus, dan keduanya akan muncul pada rasi Sagitarius.

Sekitar jam 9.00 malam waktu setempat, dua benda langit ini akan berada di tenggara pada ketinggian sekitar 26 derajat di New York City, cukup tinggi sehingga relatif mudah dikenali.

Tidak hanya bulan purnama yang akan terlihat namun segitiga musim panas, yakni asterisma dari rangkaian bintang Vega, Deneb, dan Altair yang membentuk segitiga akan terlihat pada bulan ini. Pada tanggal 15 Agustus, tidak hanya planet Saturnus yang akan terlihat, namun juga Merkurius pada pukul 06.06 waktu setempat.

Sementra planet Venus akan terlihat jelas pada 20 Agustus pukul 19.44 waktu setempat sebagai “bintang” pertama yang terlihat pada malam hari.

SUBSCRIBE
Subsribe sekarang dan dapatkan UPDATE terbaru melalui Email.
Berhenti Subscribe Kapanpun!
POS Lainnya:

Tinggalkan Komentar

avatar

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan pengalaman setiap pengunjung SETUJU & TUTUP Lihat Privasi