Ayah, Kenapa Rumah Kita Dihancurkan?

Di suatu wilayah, terdapat banyak warga yang mencari keadilan dan kenyaman dalam hidup, termasuk saya. Saya adalah anak dari seorang pedagang sayur yang diambil haknya oleh pemilik perusahaan kota, ya hak kami. Tempat kami berdagang telah dirampas dan ditata tuk dijadikan bangunan pencakar langit yang menghiasi langit kota. Kami dipaksa tuk menjual sebagian dari kehidupan kami, saya harus membantu orangtua saya tuk mencari tempat berjualan yang baru.

Tempat tinggal kami yang lusuh tak menjadi ukuran bagi para penguasa tuk berbelas kasihan, kadang saya heran mengapa orang dewasa selalu egois dan saling menjatuhkan orang dewasa lainnya. Saya melihat orangtua saya meneteskan air mata saat pria dewasa berjas datang ke rumah, ya tujuannya tuk menggusur gubuk renta kami. Lagi dan lagi, Ayah dan warga lainnya tak bisa berkutik tuk menyampaikan pendapat. Hanya jeritan yang saya dengar sambil menangis “Tolong jangan gusur tempat tinggal kami, Tuan” sambil memohon kepada pejabat tinggi yang memerintahkan para anggotanya tuk menghancurkan semuanya.

Saya melihat Ayah mengambil tikar diantara runtuhan gubuk. Saya tak tau mengapa itu semua terjadi, lalu saya bertanya kepada Ayah “Ayah, mengapa rumah kita dihancurkan? Jadi kita tinggal dimana?” lalu Ayah menghapus air matanya dan menjawab “Anakku.. Untuk hari ini kita tidur di ujung sana dulu ya (sambil menunjuk ke arah bangunan tua yang terbengkalai) sampai ayah dapat uang untuk kita beli rumah baru ya”. Saya melihat Ayah mencoba tuk menenangkan, tapi dia sendiri tidak bisa tenang dan banyak yang harus dipikirkan. Mungkin Ayah kasihan kepada saya yang masih berumur 8 tahun tanpa Ibu dan tanpa rumah, sepertinya dia merasa gagal jadi seorang Ayah. Kerutan dikening Ayah tampak menjelaskan kekhawatirannya.

Di malam hari, saya dan Ayah saya yang beralaskan tikar berbaring di atas tanah bangunan tua terbengkalai itu. Tapi kali ini kami tidak sendirian, ada beberapa warga lain yang bermalam disini juga. Saya bertanya kepada Ayah “Ayah, mengapa semua orang tampak sedih?” lalu Ayah menjawab, “Hehehe, mereka bukan sedih anakku, mereka hanya kelelahan karena seharian mencari barang-barang di sisa-sisa rumah lama mereka” lalu aku bertanya lagi, “Lalu, kenapa rumah kita dihancurkan?” Ayah menjawab dengan sayu, “Anakku, rumah kita itu akan digantikan sama rumah yang lebih besaaaaaarr, jadi untuk sementara waktu kita tinggal disini aja dulu sampai rumah kita selesai dibangun” (saya terlelap diam dan tertidur).

Keesokan harinya, Ayah menggendong saya ke pasar, kira-kira jam 4 pagi. Ternyata Ayah sedang belanja sayuran tuk dijual kembali dengan uang seadanya, Ayah mengikat tumpukan sayuran. Saat hari mulai terang, Ayah mengambil beberapa karton dan kardus tak terpakai tuk dijadikan alas sayurnya. “Nah, kali ini kita akan berjualan disini ya, anak Ayah masih mau nemenin Ayah kan?” sambil merayu. “Heheh, Ayah… aku akan selalu ikut kemana ayah pergi”.

Lelah berjualan seharian yang berhasil terjual semua, orang-orang mendengar teriakanku “Ayah!” tuk menarik perhatian pembeli yang melewati kami dan dagangan kami. Itu karena mereka butuh sayuran atau hanya karena mereka iba melihat kami berdua, entahlah hanya Tuhan yang bisa mengetahui.

Ayah tampak lebih baik dari kemarin. “Nak, kalo kamu udah gede mau jadi apa?” tanya Ayah sambil menyuapkan nasi ke mulutku. “Mau jadi seperti Ayah”, jawabku. Ayah tertawa dan berkata “Lho, kenapa mau jadi seperti Ayah?”, “Ayah itu baik, disaat rumah kita dihancurkan, Ayah masih aja semangat” jawabku sambil menyenderkan kepala ke tangan Ayah dan kembali melanjutkan “Tapi, kalo gede nanti, aku juga mau seperti bapak yang berjas kemarin. Karena disaat dia bilang “hancurkan” puluhan orang langsung mengikuti perintahnya” dan Ayah pun berkata “Kalo udah gede, kamu jadi anak yang baik ya, anak yang sukses, anak yang patuh kepada orangtua, serta rajin ke sekolah ya nak” (ya, minggu depan adalah hari dimana saya akan sekolah, jadi Ayah berharap kehidupan saya bisa lebih baik dari kehidupannya).

Hari demi hari kami lalui dan kini Ayah yang berjualan sendirian, sedangkan saya pergi ke sekolah. Banyak teman baru yang saya jumpai, tapi hanya satu orang yang mau berteman sama saya yaitu Nissa. Nissa anak yang baik dan sopan. Dia juga sama seperti saya, hidup dalam ketergantungan rejeki. Kami memiliki cita-cita yang sama, yaitu menjadi orang yang berguna.

Disaat pulang sekolah, saya kembali membantu Ayah berjualan, kali ini saya tidak mendapatkan Ayah saya di tempat biasa dia berjualan. Saya langsung menangis dan mencari-cari Ayah, saya melihat banyak petugas yang mengangkut barang dagangan para penjual, saya masih mencari Ayah sambil berteriak “Ayah, Ayah dimana!?”.

Setelah beberapa kali teriak, Ayah memeluk saya dari belakang “Nak, tenang nak, jangan nangis, Ayah disini” saya berhenti menangis dan melihat Ayah saya, karena Ayahlah yang jadi penenang. Saya berkata-kata dalam kediaman, dengan pandangan kebencian mengarah ke petugas petugas yang sibuk mengagkut barang dagangan, “Mengapa orang dewasa selalu saja menghancurkan harapan tiap orang dewasa lainnya? Ayah saya tidak mencuri, Ayah saya mencari nafkah yang halal, tetapi mengapa tak disediakan tempat bagi Ayah dan orang dewasa lainnya tuk berjualan? Tanpa adanya kejar-kejaran? Apakah ini drama Tuhan agar kami tetap tegar? Agar kami tetap kuat? Pastinya kami masih bersyukur, kami tak kehilangan satu sama lain. Saya tidak kehilangan Ayah, begitupun Ayah“ sambil menggenggam erat tangan Ayah.

SUBSCRIBE
Subsribe sekarang dan dapatkan UPDATE terbaru melalui Email.
Berhenti Subscribe Kapanpun!

Tinggalkan Komentar

avatar

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan pengalaman setiap pengunjung SETUJU & TUTUP Lihat Privasi