Cara Stimulasi Kecerdasan Lingusitik Anak

0

Anak-anak dengan kecerdasan linguistik memiliki minat terhadap bacaan. Biasanya mereka menyukai aktivitas membuka buku, bahkan sebelum mampu membacanya. Dengan demikian, cara terbaik untuk anak-anak yang memiliki kecerdasan ini adalah dengan mengucapkan, mendengarkan, melihat tulisan, dan membaca.

Pelajaran Bahasa Indonesia merupakan pelajaran paling ditunggu oleh murid kelas empat SD Harapan Bangsa. Kali ini Bu Guru Indri selaku pengaampu mata pelajaran Bahasa Indonesia membawa beberapa buku cerita baru. Setiap anak mendapatkan buku yang berbeda-beda. Untuk menambah wawasan dan melatih kepercayaan diri murid-murid. Bu Guru Indri meminta beberapa anak secara acak untuk menampilkan cerita yang mereka baca.

Mulanya sangat susah untuk meminta satu di antara mereka untuk maju ke depan. Namun Aila, anak yang gemar membaca itu maju ke depan dan mulai menceritakan isi cerita dari buku yang telah dibacanya. Perlahan anak-anak mulai tertarik dan sangat penasaran dengan cerita teman-temannya. Akhirnya mereka semua tampil dengan gaya bercerita yang berbeda-beda.

Dari kegiatan membaca itu, Bu Guru Indri mengajukan beberapa pertanyaan dan mereka berhasil menjawab. Bahkan saat Bu Guru Indri meminta beberapa anak-anak menceritakan cerita yang dibawakan teman-teman yang lainya. Bu Guru Indri memanciing anak-anak untuk menuliskan cerita dari imajinasi mereka. Murid-murid pun merangkai kisah berdasarkan imajinasinya dan tentu saja dibantu dengan pertanyaan Bu Guru Indri yang berhasil memancing imajinasi murid-muridnya.

ads by posciety

Ilusttrasi di atas termasuk ke dalam contoh kecerdasan linguistik. Howard Gardner menyatakan dalam teori Multiple Inteligences terdapat sembilan macam kecerdasan yang dimiliki manusia. Kecerdasan tersebut yaitu kecerdasan verbal-linguistik, kecerdasan logika matematika, kecerdasan visual-spasial, kecerdasan musikal, kecerdasan kinestetik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan naturalistik, dan kecerdasan eksistensial.

Apa Sebenarnya yang Dimaksud Kecerdasan Lingustik ?

Kecerdasan linguistik berkaitan dengan kemampuan seseorang atau individu dalam hal mengolah kata, atau kemampuan menggunakan kata secara efektif baik secara lisan maupun tertulis. Orang-orang yang cerdas dalam bidang ini dapat berargumentasi, meyakinkan orang, menghibur atau mengajar dengan efektif lewat kata-kata yang diucapkannya. Kecerdasan ini juga melibatkan empat keterampilan berbahasa yaitu menyimak, mendengar, menulis dan membaca. 

Anak-anak dengan kecerdasan linguistik memiliki minat terhadap bacaan. Biasanya mereka menyukai aktivitas membuka buku, bahkan sebelum mampu membacanya. Dengan demikian, cara terbaik untuk anak-anak yang memiliki kecerdasan ini adalah dengan mengucapkan, mendengarkan, melihat tulisan, dan membaca.  Kecerdasan linguistik berperan penting dalam keterampilan berkomunikas, seperti mengungkapkan pikiran, keinginan, dan pendapatnya. Anak-anak dengan kecerdasan linguistik memiliki kemampuan menghargai kata-kata dan mampu menangkap makna dari kalimat yang dibaca atau didengarnya. 

Pada tingkatan tertentu, anak-anak dengan kecerdasan linguistiknya distimulasi dengan baik akan mampu menggunakan bahasa untuk berkomunikasi sesuai dengan yang diinginkannya. Hal itu termasuk penggunaan bahasa untuk retoris (memengaruhi orang lain), menemonik (menggunakan bahasa untuk mengingat informasi), menjelaskan, dan metabahasa (menggunakan bahasa untuk membahasnya sendiri). 

Stimulasi Kecerdasan Linguistik

Stimulasi kecerdasan linguistic dapat dimulai pada anak usia dini, khususnya anak usia 4-5 tahun. Anak-anak dengan rentang usia ini, umumnya telah memiliki banyak kosakata, mampu mengembangkan keterampilan bicara melalui dengan baik menggunakan kalimat atau percakapan sederhana, mampu mengungkapkan keinginannya serta memberikan sejumlah informasi dan menggunakan berbagai bentuk pertanyaan sederhana.

Di sisi lain, anak-anak berada dalam fase menyukai permainan. Di mana fungsi bermain dan berinteraksi memiliki peranan penting dalam perkembangan kognitif dan sosial anak serta mengembangkan sikap disiplin, moral, kreativitas, perkembangan fisik, dan termasuk juga mengembangkan kemampuan berbahasanya. Mengasah kecerdasan linguistik dapat dilakukan dengan menerapkan  beberapa teknik membacakan cerita berikut:

  1. Membacakan cerita langsung dari buku cerita
  2. Bercerita dengan menggunakan ilustrasi gambar dari buku
  3. Menceritakan dongeng/fantasi
  4. Bercerita dengan menggunakan papan beralas flanel
  5. Bercerita dengan menggunakan media boneka
  6. Dramatisasi suatu cerita
  7. Bercerita sambil memainkan jari-jari tangan. 

Kenapa membacakan cerita dapat menstimulasi kecerdasan linguistik? Ini karena bercerita memiliki beberapa manfaat, seperti:

  1. Mengembangkan kemampuan berbicara dan memperkaya kosakata anak. 
  2. Melalui bercerita kita mengenalkan beberapa bentuk emosi dan ekspresi kepada anak seperti marah, sedih, gembira, kesal dan lucu.
  3. Kegiatan bercerita ini dapat menstimulasi daya imajinasi dan kreativitas anak, memperkuat daya ingat serta membuka cakrawala pemikiran anak. 
  4. Bercerita juga dapat menumbuhkan empati dalam diri anak. 
  5. Bercerita sebagai langkah awal menumbuhkan minat baca anak. 
  6. Bercerita merupakan cara paling baik untuk mendidik tanpa kekerasan, menanamkan nilai moral dan etika juga kebenaran, serta melatih kedisiplinan. 
  7. Melalui bercerita, hubungan personal dan ikatan batin orang tua (termasuk guru) dengan anak dapat terjalin dan ditingkatkan.

Seorang ahli bernama Weaver membuat pernyataan “belajar membaca merupakan sebuah proses seorang anak membaca rangkaian tulisan dalam rangka mendapatkan makna dari tulisan tersebut.” Bisa kita lihat bagaimana anak-anak yang hidup di negara lain, di usia dini mereka sudah dikenalkan dengan buku bergambar dan diberikan dongeng sebelum tidur.

Kebiasaan ini membuat mereka menyimpan banyak kosakata dan memudahkan mereka dalam berinteraksi. Namun sekarang banyak hal mudah sekali untuk menstimulasi kecerdasan linguistik anak. Di mana orang tua dapat memanfaatkan video yang tersebar di Youtube. Lebih menarik dan tentunya harus tetap berada di bawah pengawasan orang tua.

Artikel Lainnya
Komentar

Email kamu tidak akan dibagikan kepada siapapun

Website ini menggunakan cookie untuk pengalaman yang lebih baik Setuju & Tutup Selengkapnya