Penerapan Video Assistant Referee atau yang lebih dikenal dengan VAR di Liga Primer Inggris masih menjadi sorotan. Tak sedikit keputusan VAR menimbulkan kontroversi, salah satunya saat pertandingan antara Liverpool melawan Machester City pada Ahad (10/11) lalu.

Pasalnya, kekalahan 1-3 City atas The Reds ditengarai sebagai biang keladinya. Pelatih City, Pep Guardiola dibuat geram pada kepemimpinan wasit pemimpin laga, Michael Oliver karena menyatakan tak ada pelanggaran handsball yang dilakukan penggawa Liverpool.

Dukungan Penerapan VAR di Liga Inggris

Penanggungjawab VAR di Liga Primer Inggris, Neil Swarbrick justru memberi penilaian 7/10 soal penerapan VAR di sepakbola tanah Tiga Singa. Ia meminta seluruh fans untuk bersabar setelah kontroversi yang timbul dalam laga akhir pekan lalu.

“Saya sangat puas, jujur, dengan apa yang kami mulai. Saya memberi nilai tujuh (dalam penerapan VAR),” katanya dalam laman BBC Sports.

Setelah VAR diujicoba pada kompetisi Piala Carabao dan Piala FA, beberapa pihak masih menganggap teknologi yang pada prinsipnya membantu kinerja wasit itu dianggap inkonsisten dan mengurangi keseruan sebuah pertandingan.

Ia menegaskan, terbuka bagi segala kritik tentang penggunaan VAR, dan memastikan pembenahan segala kekurangan yang terjadi. Menurutnya, tingkat akurasi keputusan wasit yang semula 82 persen, meningkat hingga 90 persen setelah VAR mulai diaplikasikan.

“Jika ini dikembangkan, saya akan memberi nilai 8,5 sampai 9. Saya masih yakin dengan penerapan yang sekarang, namun selalu ada ruang untuk perkembangan,” ucapnya.

VAR di Liga Inggris Mulai Memancing Perdebatan

Dalam statistik yang dirangkum BBC, tercatat ada 800 pengecekan oleh VAR dari 12 pekan Liga Primer. Sebanyak 29 di antaranya, menghasilkan keputusan yang berlawanan dari indikasi awal. Waktu pengecekan memakan 30 detik rata-rata waktu pengecekan. Jika keputusan berlawanan dengan indikasi wasit, rata-rata pemeriksaannya selama satu menit 15 detik.

Di sisi lain, mantan striker Chelsea, Chris Sutton mempertanyakan performa VAR di atas rumput. Ia mengatakan, masih banyak kesalahan besar dan masih jauh bagi teknologi VAR dikatakan sukses.

“(Mendapat) nilai 7 dari 10? Ayolah, apakah mereka serius. Ada banyak kekeliruan yang parah, mereka pasti salah mengatakan itu,” kata dia seperti dikutip BBC.

Hal senada disampaikan mantan bek Manchester CIty, Micah Richards yang menilai penanggungjawab VAR masih terdominasi oleh teknologi yang belum paripurna.

“Ini tak bisa diaplikasikan ketika wasit hanya melihat layar. Masalah yang ada lebih besar dari itu, mereka terus melakukan kesalahan yang lebih besar dan harus segera dihentikan,” ujar dia seperti dikutip BBC.

Kritik pedas juga disampaikan mantan kiper tim nasional Inggris, Paul Robinson yang menyebut VAR adalah bencana yang belum ditanggulangi. Ia memerhatikan, wasit justru ketergantungan sebuah alat untuk menentukan keputusan.

“Ini adalah kekacauan sejak awal. Kalaupun ada wasit unggulan yang menggunakan VAR, apakah keputusannya akan otomatis benar?” katanya seperti dikutip BBC.

Klopp Meminta Sistem VAR Diubah

Juergen Klopp menyerukan agar sistem Video Assistant Referee (VAR) diubah. Manajer Liverpool itu menilai alat bantu wasit tersebut masih punya kekurangan.

Penggunaan VAR di liga-liga top Eropa masih menyisakan masalah. Terakhir, sorotan tertuju di Liga Inggris, tepatnya pada laga Liverpool vs Manchester City di Anfield, Minggu (10/11/2019).

Ada dua momen yang disorot. Dua kali handball bek kanan Liverpool Trent Alexander-Arnold di kotak penalti tak dianggap sebagai pelanggaran yang harusnya memberikan City hadiah penalti.

Dalam pertemuan pelatih-pelatih Eropa di Nyon, Swiss, Klopp menyerukan agar sistem VAR diubah. Ia menilai masih ada beberapa hal yang tidak beres dalam penerapannya.

“VAR bisa ditingkatkan lagi, bisa kok. Itu tidak akan pernah 100 persen akurat, semua orang tahu itu, tetapi ada beberapa hal yang tidak benar,” kata Klopp seperti dilansir The Sun.

“Dengan VAR, handball, offside, jelas kami harus terus meningkatkan. Ada ide bagus dari UEFA (tentang) bagaimana kami bisa memilah hal-hal dari wasit, jadi semua orang terlibat di dalamnya”.

“Masih ada ruang untuk kesalahan. Hal-hal ini dilakukan oleh manusia dan tidak satupun ada yang sempurna. Tidak ada yang meminta kesempurnaan, Anda hanya ingin memiliki keputusan yang tepat,” jelas Klopp.

Karena VAR, Guardiola Bisa Tinggalkan City

Manajer Pep Guardiola berpotensi meninggalkan Manchester City karena penggunaan VAR (video assistant referee) yang kontroversial di Liga Inggris.

Guardiola mengalami beberapa momen kontroversial dalam pertandingan Liverpool vs Man City di Anfield, akhir pekan lalu. Tetapi setelah dicek dengan VAR, peristiwa-peristiwa itu tidak terbukti pelanggaran.

Mantan pemain Man City, Trevor Sinclair, menilai VAR merusak citra Liga Inggris. Selain itu dengan tidak konsistennya fungsi VAR di Liga Inggris, manajer seperti Guardiola bisa meninggalkan Premier League.

“Guardiola ingin kejelasan seperti apa aturannya, karena saat ini suporter, pemain, dan manajer belum mendapat petunjuk. Ini ketakutan saya, jika ini berlanjut, manajer seperti Guardiola dan pemain terbaik akan mulai meninggalkan Premier League,” ujar Sinclair kepada TalkSport.

“Apabila masalah ini berlanjut menjadi konsisten, orang-orang akan meninggalkan Liga Inggris dan pergi ke liga lain,” ucap Sinclair menambahkan.

0 0 vote
Article Rating
guest
Masukkan Nama Anda
Masukkan Email yang Sah
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments