Menguak Tabir di Balik Istilah Rebo Wekasan

Dalam sistem kalender hijriyah yang digunakan ummat Islam, bulan shafar adalah bulan ke-2 dalam penanggalan Kalender hijriyah. Bulan Shafar jatuh sesudah bulan Muharram.

Menurut kepercayaan yang beredar di Masyarakat, ada sebuah hari dalam bulan shafar dimana hari itu akan diturunkan 320.000 bala’, musibah, penyakit, dan berbagai hal naas lainnya, yang populer dengan istilah Rebo Wekasan. Dan dalam kalender hijriyah tahun ini, Rebo Wekasan jatuh di hari ini.

Masyarakat luas ramai menyebarkan amalan-amalan apa saja yang harus diamalkan pada hari ini. Mulai dari bacaan do’a tolak bala’, Shalat sunat Rebo wekasan, sampai dzikir-dzikir dan beberapa ritual peribadatan lainnya.

Namun yang masih menjadi kontroversi dalam hal ini adalah hukum daripada meyakini, dan melakukan ritual-ritual tersebut, Sehingga informasi mengenai rebo wekasan banyak dicari oleh masyarakat di mesin pencarian.

Lalu apa itu Rebo Wekasan? Bagaimana asal-usulnya? Apa hukum meyakini serta melaksanakan amalan-amalan didalamnya?

Untuk mengetahuinya, Anda dapat menyimak penjelasan yang kami rangkum berikut ini!

Apa Itu Rebo Wekasan ?

Secara etimologis, Rebo artinya nama hari dalam bahasa Jawa, yaitu Rabu dalam bahasa Indonesia, Wednesday (Inggris), أربعاء (Arab), Çarşamba (Turki), چھار شنبہ (Persia).

Sedangkan Wekasan adalah bahasa Jawa yang artinya pungkasan atau akhir (the end/النهاية).

Jadi, Rebo Wekasan secara bahasa adalah hari Rabu Terakhir. Tapi sebagai istilah tradisi yang dikenal maksudnya adalah hari Rabu Terakhir dari bulan Safar, yaitu bulan ke-2 dari 12 bulan penanggalan Hijriyah. Karena itu tradisi ini sangat kental dengan Islam.

Sedangkan dilihat secara terminologis, Rebo Wekasan adalah sebuah tradisi memperingati hari Rabu terakhir di bulan Safar. Tujuan peringatan itu adalah menolak bencana, talak balak. Kegiatan yang dilakukan berkisar pada berdoa, Shalat Sunnah, bersedekah. Kegiatan-kegiatan itu bisa bermacam-macam dalam praktiknya.

Sebenarnya, tradisi tolak bala dan bencana pada Rebo wekasan tidak hanya dilakukan di Indonesia, tapi juga di beberapa negara timur tengah, terlebih penganut aliran syi’ah.

Bulan Shafar tidak memiliki perbedaan dengan bulan-bulan hijriyah lainnya. Sebagaimana bulan lainnya, ia merupakan bulan dari bulan-bulan Allah yang  tidak memiliki kehendak dan  berjalan sesuai dengan apa yang Allah ciptakan untuknya.

Masyarakat jahiliyah kuno, termasuk bangsa Arab, sering mengatakan bahwa bulan Shafar adalah bulan sial. Tasa’um (anggapan sial) ini telah terkenal pada umat jahiliah dan sisa-sisanya masih ada di kalangkan muslimin hingga saat ini.

Asal-usul yang Mendasari Tradisi Rebo Wekasan

Dalam Islam, tidak ada pengecualian hari baik dan hari buruk, bulan baik dan bulan buruk, amalan hari baik dan amalan hari buruk. Begitu pula dengan amalan-amalan pada hari rabu terakhir bulan Shafar atau Rebo wekasan.

Asal-usul tradisi Rebo wekasan didapat dari beberapa sumber, tentunya bukan Al-Quran ataupun hadist. Sumber Referensi yang kami jumpai yang membahas masalah ini adalah kitab Kanzun Najah karya Abdul Hamid bin Muhammad Ali Quds. Salah satu tokoh sufi, murid Zaini Dahlan.

Dalam buku tersebut, dia menyatakan di pasal: Hal-hal yang Dianjurkan ketika bulan Shafar. Di dalam bukunya tertulis sebagaimana berikut ini:

“Ketahuilah bahwa sekelompok nukilan dari keterangan orang shaleh – sebagaimana nanti akan diketahui – bahwa pada hari rabu terakhir bulan safar akan turun bencana besar. Bencana inilah yang akan tersebar di sepanjang tahun itu. Semuanya turun pada hari itu. Siapa yang ingin selamat dan dijaga dari bencana itu, maka berdoalah di tanggal 1 safar, demikian pula di hari rabu terakhir dengan doa yang sama. Siapa yang berdoa dengan kalimat itu maka Allah akan menyelamatkannya dari keburuhan musibah tersebut. Inilah yang aku temukan dari tulisan orang-orang shaleh”.

Dilansir dari laman NU.Or.Id, ada juga yang sekadar mengambil kesimpulan dengan firman Allah Ta’ala, yang artinya: ’’Kaum ‘Aad pun mendustakan (pula). Maka alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku, Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari nahas yang terus menerus. yang menggelimpangkan manusia seakan-akan mereka pokok korma yang tumbang” (Q.S al-Qamar (54:18-20).

Imam Al-Bagawi dalam tafsir Ma’alim al-Tanzil menceritakan, bahwa kejadian itu (fi yawmi nahsin mustammir)  tepat pada hari Rabu terakhir bulan Shafar. Maka pada akhirnya dikenal lah tradisi Rebo wekasan.

Namun, hal ini telah dibantah oleh sebuah hadits shahih Abu Hurairah yang berkata, bersabda Rasulullah, “Tidak ada wabah (yang menyebar dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tidak pula ramalan sial, tidak pula burung hantu dan juga tidak ada kesialan pada bulan Shafar. Menghindarlah dari penyakit kusta sebagaimana engkau menghindari singa.” (HR Imam al-Bukhari dan Muslim).

Ungkapan hadits laa ‘adwaa’ atau tidak ada penularan penyakit itu, bermaksud meluruskan keyakinan golongan jahiliyah, karena pada masa itu mereka berkeyakinan bahwa penyakit itu dapat menular dengan sendirinya, tanpa bersandar pada ketentuan dari takdir Allah.

Amalan-Amalan yang Populer pada Rebo Wekasan

Diantara amalan tersebut adalah mengerjakan shalat empat raka’at dengan satu kali salam, dalam rangka tolak balak. Shalat ini dikerjakan pada waktu dhuha atau setelah terbit matahari. Pada setiap raka’at membaca surat Al-Fatihah kemudian surat Al-Kautsar 17 kali, surat Al-Ikhlas 50 kali, Al-Mu’awwidzatain (Al-Falaq dan An-Nas) masing-masing satu kali. Ketika salam membaca surat Yusuf ayat 21 yang berbunyi:

وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ.

“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya”.

Ayat ini dibaca sebanyak 360 kali.

Kemudian ditambah dengan Jauharatul Kamal tiga kali dan ditutup dengan bacaan (surat Ash-Shaffat ayat 180-182) berikut:

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Kegiatan ini dilanjutkan dengan memberikan sedekah makanan kepada fakir miskin. Tidak cukup sampai di situ, ada juga yang menyuruh untuk membuat rajah-rajah dengan model tulisan tertentu pada secarik kertas, kemudian dimasukkan ke dalam sumur, bak kamar mandi, atau tempat-tempat penampungan air lainnya.

Hukum Mempercayai dan Melaksanakan Ritual Rebo Wekasan

Beberapa fatwa terdengar mengharamkan tradisi rebo wekasan. Ada yang karena hal itu tidak ada dalam syariat islam sebelumnya, atau hal baru yang dinamakan bid’ah dan lain sebagainya.

Dikutip dari laman NU.Or.Id, mengenai amalan-amalan tersebut di atas, berdasarkan pernyataan KH. Abdul Kholik Mustaqim, Pengasuh Pesantren al-Wardiyah Tambakberas Jombang, para ulama yang menolak adanya bulan sial dan hari nahas Rebo Wekasan berpendapat:

Pertama, tidak ada nash hadits khusus untuk akhir Rabu bulan Shofar, yang ada hanya nash hadits dla’if yang menjelaskan bahwa setiap hari Rabu terakhir dari setiap bulan adalah hari naas atau sial yang terus menerus, dan hadits dla’if ini tidak bisa dibuat pijakan kepercayaan.

Kedua, tidak ada anjuran ibadah khusus dari syara’.Ada anjuran dari sebagian ulama’ tasawwuf namun landasannya belum bisa dikategorikan hujjah secara syar’i.

Ketiga, tidak boleh, kecuali hanya sebatas sholat hajat lidaf’ilbala’almakhuf (untuk menolak balak yang dihawatirkan) atau nafilah mutlaqoh (sholat sunah mutlak) sebagaimana diperbolehkan oleh Syara’, karena hikmahnya adalah agar kita bisa semakin mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

SUBSCRIBE
Subsribe sekarang dan dapatkan UPDATE terbaru melalui Email.
Berhenti Subscribe Kapanpun!
POS Lainnya:

Tinggalkan Komentar

avatar

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan pengalaman setiap pengunjung SETUJU & TUTUP Lihat Privasi