Mental Health: Stop Nethink & Overthinking

0

Setiap kita pasti pernah ya merasakan yang namanya kegagalan. Nggak mungkin nggak. Kegagalan itu hal yang wajar banget. Cuma bagaimana cara kita menyikapi kegagalan itu yang seharusnya diubah. Buang paradigma, aku tidak sanggup menjadi “Mari Kita Coba”. Kamu mungkin pernah berada di situasi yang rasanya:

Eh mending mati ajah deh daipada hidup cuma jadi beban

Kita adalah orang yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi sekarang dan nanti. Kita adalah pemegang kendali diri, lalu kenapa kita bisa menyerah padahal kita belum tahu apa hasil yang akan kita dapatkan setelah mencoba? Sellau berpikiran bahwa kita nggak sanggup juga adalah paradigma yang harus dibuang. Karena dengan berpikiran begitu, semuanya kejadian. Pernah dengar istilah yang satu ini?

Kamu adalah apa yang kamu pikirkan

Jadi, selama kamu berpikir bahwa kamu tidak bisa, maka selamanya tidak tapi coba kamu katakan bisa. Kamu akan berusaha semampu kamu dan masalah hasil itu jadi poin terakhir. Ibarat pemain bola, ketika kamu membutuhkan satu gol dalam waktu sembilan puluh menit. Kamu harus bermain cantik dengan memanfaatkan tekniknya dan juga bekerja sama dengan teman-teman kamu. Yuk stop Nethink dan Overthinking.

Setiap kegagalan adalah harapan baru. Kenapa bisa disebut begitu? Karena gagal sekali bukan berarti kamu selamanya akan gagal. Toh banyak juga kan para ilmuan di dunia ini yang kenyatannya lebih pahit daripada kita. Mereka yang bahkan gagal ribuan kali melempar bola, mereka menemukan titik kemenangan setelah melewati banyak kegagalan.

Terkadang kegagalan juga merenggut kepercayaan diri kita dan akhirnya kita menjadi pesimis. Nah untuk mengatasi sikap yang seperti ini kamu harus mengatasinya. Bagaimana caranya? Ini dia tips agar kamu tidak Nethink and Overthinking.

Membaca

Kamu mungkin tidak suka yang sama kegiatan yang satu ini. Lelah dan mudah ngantuk adalah jawaban pada umumnya. Padahal kegiatan yang satu ini bisa mengalihkan perhatian kamu dari yang namanya kegagalan. Membaca mendorong kamu untuk belajar dan mengetahui banyak hal. Bahkan kamu akan sadar bahwa kamu adalah butiran debunya dunia. Artinya, penderitaan yang kamu alami itu dialami juga oleh orang sebelum kamu.

Menulis

Menulis merupakan cara mengalihkan diri dari kegagalan, kekecewaan, dan tidak percaya diri. Kamu masih ingat bagaimana pertama kali kamu belajar menulis di bangku sekolah? Momen dramatis di mana kamu terus mengayunkan satu persatu huruf hingga kamu berhasil menuliskan namamu (setidkanya begitu).

Kamu bisa mulai menulis dari apa yang kamu sukai, menulis resep, sampai akhirnya kamu bisa menulis dengan baik dan benar bahkan membukukan kumpulan resepnya dikirim ke penerbit yang bersangkutan. Kalau kamu nggak bisa masak, bagaimana jika kamu tuliskan quotes atau sajak? Kadang dalam keadaan kita sedih (gagal dalam meraih atau mencapai sesuatu) tanpa sadar kita menuliskan kata yang benar (kenyataan hidup tanpa rekayasa).

Mungkin mimpi kamu redup untuk saat ini, tapi bukan berarti kamu menyerah kan? Kamu harus menerobos kegagalan yang lain untuk bisa meraih kesuksesan dalam hidup. Menjalani kehidupan itu terkadang harus menyelaraskan antara realita dan harapan. Jadi jalani dan nikmati prosesnya dengan baik dan berhenti untuk overthinking dan berprasangka buruk pada orang lain.

Komentar

Email kamu tidak akan dibagikan kepada siapapun

Website ini menggunakan cookie untuk pengalaman yang lebih baik Setuju & Tutup Selengkapnya