Poligami Rasa

Rara menghela nafas perlahan, berat, apa yang ia dengar dari mulut suaminya membuatnya seakan tersambar petir. Rara tak menyangka, apa yang selama ini ia anggap sebagai prasangka buruknya terhadap suaminya ternyata memang bukan sekedar prasangka, melainkan firasat tajam seorang istri.

Seharusnya, ia tak memaksakan diri, ketika menyadari pembicaraan yang berputar diantara mereka sebelum pernikahan sudah menunjukan segalanya. Benar, suaminya tak bersalah, semua ini salahnya, semuanya. Ingatannya terbang bebas ke masa lalu, beberapa bulan sebelum mereka menikah.

Kota Bogor, 31 April 2017

Sepanjang jalan, Amar terus membicarakan kenangan indah bersama Laila mantan kekasihnya selama 9 tahun kebelakang. Sebenarnya Rara cemburu, tapi ia tahan karena tak ingin menyulut perselisihan. “Kamu beruntung sayang, kenal aku pas aku udah mapan, waktu aku sama Laila dulu, aku jaman-jamannya susah, kendaraan sering mogok, ya yang sering aku suruh dorong ya Laila, habis siapa lagi, makanya aku kagum dan gabisa lupa sama dia, orangnya kuat, sabar, ngga gampang ngeluh” ujarnya.

Rara sengaja memalingkan wajahnya agar Amar tak melihat air mukanya dari spion motornya. Rara membatin, apa Amar lupa ya, kalo dia lagi jalan sama tunangannya?.

Rara tidak mengenal sosok Laila secara personal, ia mengenal Laila dari cerita Amar, ibunya Amar, neneknya Amar, adiknya Amar, tantenya Amar, hampir semua keluarga Amar sering menceritakan betapa dekatnya mereka dengan Laila. Bahkan ketika Laila memilih menikah dengan lelaki pilihan orang tuanya dan menorehkan luka pada Amar, Keluarga Amar tetap menghormati Laila, menyayangi Laila, dan membela Laila, yang salah bukan Laila, yang salah orang tuanya. Iya, Laila mencintai Amar, dan Amar lebih mencintai Laila.

Jujur saja, Rara merasa kecil jika mendengar celotehan tentang Laila, Laila, dan Laila. ketika hujan, ibu Amar memberikan jas hujan “Ini jas hujan Laila”, ketika berbincang dengan neneknya Amar, “Dulu Laila sering banget nginep sama nenek disini”, ketika menanyakan mahar “Mukena ini dulu dibeli buat Laila”. Selalu Laila, tapi sayangnya Namaku Rara, bukan Laila.

Rara terhanyut dalam lamunannya, sampai ia tidak memperhatikan Amar yang masih terus bercerita tentang Laila. dan ketika ia tersadar, spontan ia bertanya pada Amar. “Kira-kira aku bisa ngga ya, menghapus Laila dari memori kamu ? ngegantiin posisi Laila yang sebegitu kuatnya?” tanyanya. Amar tertawa.

“Ya nggaklah, sampai kapanpun ga ada yang bisa gantiin posisi Laila, Laila juga bukan kenangan buruk yang perlu dihapus, kamu harus tau, kenangan itu tercipta untuk diingat, bukan untuk dilupakan”. Rara hanya tersenyum getir, “Kalo aku pun gak bisa gantiin posisi Laila bahkan setelah menikah nanti, trus dimana posisiku?” tanya Rara.

“Posisi kamu? posisi kamu kan jelas, sebagai istri aku, teman hidup aku, pendamping aku, masa depan aku. Posisi Laila yaa sebagai mantan aku, sebagai orang yang pernah nemenin aku, dan ngajarin aku banyak hal dimasa lalu, makanya aku bilang kamu gak akan bisa gantiin posisi Laila dihidup aku, ya karena posisi kalian berbeda,” Rara menghela napas.

“Mar, kamu cinta sama aku sebesar kamu cinta sama Laila juga kah?” bodoh kamu Ra, kenapa nanyain itu sih, rutuknya dalam hati. “Hmm, Aku sayang kamu Ra, aku memang cinta sama Laila, tapi aku sayang sama kamu. Buat aku, sayang itu lebih dari cinta, makanya aku siap berkomitmen hidup sama kamu, bertanggung jawab atas kamu, ingin punya anak dari kamu”. Amar terdiam sejenak, hening.

“Ra, cintanya aku sama Laila, udah bikin aku bodoh, berjuang buat hal yang sia-sia selama 9 tahun, dan sama kamu hanya 4 bulan dan kita udah tunangan, itu kenapa buat aku sekarang cinta nggak begitu penting, yang penting itu komitmen buat kedepannya”.

Rara masih tak bergeming, sulit rasanya membenturkan perasaanya dengan pikiran logis Amar, iya Amar pria dewasa yang sudah banyak makan garam soal percintaan. Sementara dirinya, hanya bocah ingusan yang belum pernah merasakan jatuh cinta pada pria manapun selain Amar.

“Itu kenapa Ra, aku bilang kalian gak bisa menggantikan posisi satu sama lain, menyamai Laila pun kamu ngga bisa, karena kalian berbeda, Laila ya Laila, aku milih dia sebagai masa lalu aku, dan kamu ya kamu, aku memilih kamu sebagai masa depan aku, percaya sama aku Ra, aku kenal Laila 9 tahun, tapi aku bakalan lebih lama kenal dan hidup sama kamu Ra, jangan ragukan itu ya Ra” jelasnya.

Rara hanya tertegun, Kamu benar Amar, aku dipilih untuk jadi masa depan kamu, dan akan hidup dibawah bayang-bayang Laila.

Bandung, 14 September 2018

Rara telah sadar dari perjalanan ingatannya setahun silam, ia kaget saat perlahan air matanya menetes, Amar masih memandanginya “Tolong aku Ra, aku harus apa? Semakin aku berusaha lupain Laila, semakin kenangan kenangan itu berseliweran dibenak aku Ra,”pinta Amar.

“Mar, aku kenal kamu udah 2 tahun, udah setahun lebih aku jadi istri kamu, kita udah punya Khanza, dan itu belum cukup buat buka mata hati kamu?, aku yang seharusnya nanya sama kamu, Aku harus gimana lagi?”.

Rara menahan perih, namun ia tetap bersikap santai dan lembut, ia ingat ada Khanza di sampingnya. “Kamu masih cinta sama Laila?” pancing Rara, sebenarnya Rara tahu jawabannya, namun ia selalu menepis perasaannya dan beranggapan ia hanya berprasangka buruk tentang suaminya.

“Sangat Ra, aku tau ini salah Ra, makanya aku minta bantuan sama kamu Ra, tolong bantu aku” desak Amar. Rara tersenyum getir.

“Dua tahun Mar, aku udah bantu kamu selama dua tahun, tapi kamu tetap jalan di tempat, kamu gak lihat usaha aku, perjuangan aku mengandung khanza, melahirkan keturunan kamu, dengan harapan kamu bisa lihat aku Mar”. Air matanya mulai mengalir, namun Rara tetap menguasai dirinya.

“Amar, kamu bukan ga bisa lupain Laila, tapi kamu gak mau lupain dia Mar, Aku tau itu, termasuk soal perasaan kamu masih cinta sama Laila, sebenernya kamu gaperlu jawab itu, aku tau itu dari sebelum kita menikah.” kali ini Rara tak kuasa menyembunyikan air matanya.

“Aku tau, aku gak akan pernah bisa jadi satu-satunya wanita yang ada di hati kamu, entahlah, mungkin ga pernah ada, aku juga tau, aku harus berbagi kasih sama wanita lain meskipun diam-diam, aku tau aku gak akan pernah bisa milikin hati kamu, sedikit pun ngga” Suara Rara mulai terdengar pilu. Amar terperanjat kaget, jadi selama ini?.

“Kamu tahu itu Raa? Dari sebelum menikah?? Ra, kenapa kamu mau bertahan sampai sejauh ini Ra, kenapa kamu bersedia nikah sama aku Ra?” Amar menggenggam tangan Rara, matanya mulai mengeluarkan air mata.

“Kamu terluka Mar, dan aku gak bisa ngeliat orang yang aku cintai terluka, itu alasan aku bertahan sejauh ini” Amar menarik Rara kedalam pelukannya, dan dalam dekapan Amar, Rara malah merasakan jarak yang jauh antara Amar dan dirinya.

Hubungi aku, kalau kamu mulai rindu!

Amar melirik ponselnya, pesan WhatsApp dari Rara, ia membacanya:

Hai Amar, aku mau minta izin untuk beberapa minggu ini, aku rasa aku butuh waktu buat berpikir jernih, aku akan pergi ke suatu tempat, aku butuh ketenangan. Kamu gak perlu khawatir, Khanza bakal baik-baik aja sama aku. Aku gak akan tinggalin kamu, ini hanya sementara Amar, sampai aku baik-baik saja. Jaga diri baik-baik ya sayangku, hubungi aku kalau kamu sudah mulai rindu!. –Rara&Khanza loves you.

Amar panik, ia mencoba menelpon Rara, namun tampaknya Rara telah mematikan ponselnya. Ia juga menelpon teman teman dan keluarga Rara, semuanya nihil.

Amar menangis sejadi-jadinya, dan untuk pertama kalinya Amar sadar, Ia mencintai Rara dan ia bodoh tak bisa membedakan cintanya untuk Rara dan obsesinya pada Laila, “Ra, aku rindu kamu”. Amar hanya menunggu, ya, menunggu Rara kembali dan mencintainya.

SUBSCRIBE
Subsribe sekarang dan dapatkan UPDATE terbaru melalui Email.
Berhenti Subscribe Kapanpun!

Tinggalkan Komentar

avatar

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan pengalaman setiap pengunjung SETUJU & TUTUP Lihat Privasi