Sekilas Tentang Kehidupan di Pesantren

Santri adalah para siswa-siswi yang mendalami ilmu-ilmu agama di Pesantren, baik yang tinggal di pondok maupun pulang setelah selesai waktu belajar. Mereka adalah murid Kyai yang dididik dengan penuh kasih dan sayang untuk menjadi mukmin yang kuat (tidak goyah imannya oleh pergaulan, kepentingan, dan adanya perbedaan).

Santri juga merupakan kelompok yang mencintai negaranya, sekaligus menghormati guru dan orangtua kendati keduanya telah tiada. Mereka adalah kelompok orang yang memiliki kasih sayang pada sesama (sahabat-sahabat) dan sangat pandai bersyukur dengan kondisi keadaannya.

Berbicara tentang Santri, banyak Dinamika Kehidupan yang Inspiratif menyelimuti setiap langkahnya. Salah satu diantaranya adalah Persahabatan, tentu sudah terbayang bukan? Betapa dekat dan eratnya sebuah pertemanan yang dilapisi kasih sayang kemudian berubah menjadi sebuah persahabatan yang seperti terjadi saat ini dikalangan Santri dan mungkin akan dialami oleh semua orang yang tidak terkecuali seorang bertitel Santri.

Bahkan, mungkin persahabatan mereka lebih dari arti sahabat itu sendiri. Persahabatan yeng terjalin diantara sesama santri akan terasa bagai saudara. Kenapa? Karena mereka mengetahui satu dengan lain dari mulai bangun tidur hingga tidur kembali, dari mulai yang suka ngedengkur, yang suka ngigau sampai yang kalau udah tidur susah bangun lagi.

Mereka tau segala hal dari yang terkecil sekalipun seperti kebiasaan buruk sang sahabat yang malas cuci tangan setelah makan, memilih tisu basah sebagai pengganti air atau lupa menyimpan barang dan akan kelimpungan heboh kesana kemari, atau mungkin kebiasaan baik sang sahabat yang tak suka terlambat shalat berjamaah dan akan memaksa untuk berangkat lebih awal.

Tapi, banyak orang awam yang menganggap kehidupan di pesantren sangatlah sulit. Apalagi bagi orang yang terbiasa hidup dengan kemewahan, bergelimangan harta, dan hidup yang serba ada. Segala kebutuhan setiap hari disediakan, baju disetrika, uang tinggal minta, televisi selalu nyala, sampai makan pun sudah tersedia, hal itu tidaklah sama dengan kehidupan anak-anak santri.

Ketika di pesantren, uang sudah dicukupkan segitu adanya dan sebisa mungkin mengatur uang supaya cukup sampai minggu berikutnya tiba. Misalnya, kita di beri kiriman seminggu sekali dengan uang Rp. 70.000, maka itu cukup ataupun gak cukup harus cukup!

Bahkan, kita yang biasanya pegang HP setiap waktu, ketika di pesantren ada peraturan gak boleh pegang HP dan mungkin hanya satu minggu sekali, itu pun di batasi pemakaiannya.

Pada awalnya, banyak orang yang gak betah di pesantren. Padahal ketika  kita sudah menjalaninya dan sudah bisa beradaptasi, kita akan dibuat susah move on dengan kehidupan Pesantren. Mengaji tak pernah henti, pagi sampai sore penuh dengan kegiatan dan hanya ada istirahat ketika pergantian pengajar.

Tapi itulah keseruannya! Keseruan mencari ilmu dari gudangnya Khazanah Ilmu. Apalagi ketika kita mendengar bel dengan satu dentingan, itu adalah hal yang sangat ditunggu-tunggu. Semua bilang Astagfirullah tapi tangan terkepal yes, yes, yes.

Di pesantren gak ada kata jenuh, karena terisi dengan berbagai kegiatan. Namun ketika hari libur, atau pengajian libur dari pagi sampe sore dan gak ada yang ngisi pengajian, barulah disitu rasa jenuh tiba. Mau ngapa-ngapain nggak bisa, ngaji nggak, main pun gak bisa. Mungkin sangat berbeda ketika kita berada di rumah.

Ketika jenuh menyerang, bisa nonton TV, Main HP, Hangout bareng temen, dan banyak lagi kegiatan yang sifatnya menghibur dan gak bikin kita jenuh. Na, disini ujiannya…

Ketika jenuh, pikiran kita pasti tertuju kerumah, pengen pulang, ngeluhlah, bilang disini mah gak bisa gitulah, gak bisa ginilah. Disitu lah kita di uji kesabaran, kesungguhan dan kegigihan dalam mencari ilmu.

Bukankah dalam kitab ta’lim juga diterangakan, salah satu cara supaya kita berhasil mencari ilmu itu harus sabar? Jadi, bagi kita yang baru mondok, harus sabar dan terus semangat, terus berusaha mencari ilmu karena usaha tak akan mengkhianati hasil.

Orang- Orang bijak bilang bahwa “Best Friend is a Reflection of Our Selves” [Sahabat Terbaik adalah Refleksi Diri Kita]. Maka, mari berlomba dalam hal kabaikan dan carilah sahabat yang mengajak kedalam kebaikan dalam meningkatkan kualitas diri.

SUBSCRIBE
Subsribe sekarang dan dapatkan UPDATE terbaru melalui Email.
Berhenti Subscribe Kapanpun!

Tinggalkan Komentar

avatar

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan pengalaman setiap pengunjung SETUJU & TUTUP Lihat Privasi