Teror Ular Kobra, Simak Edukasi Rescue Ala Panji Petualang

0

Di musim penghujan tahun ini, kita digegerkan dengan teror anak kobra yang masuk ke pemukiman. Tak hanya di kampung-kampung, tapi juga diperkotaan.

Fenomena ini sangat meresahkan. Betapa tidak, ular kobra adalah salah satu hewan melata yang sangat mematikan setelah ular-ular berbisa yang lain.

Penanganan yang salah dalam evakuasi bisa mengakibatkan kematian, baik ular kobra maupun manusia yang mengevakuasi. Nah, seorang reptiler atau bisa dikatakan penggiat reptil Panji Petualang dalam kanal Youtube serta di beberapa stasiun televisi swasta, turut serta mengevakuasi serta memberikan edukasi kepada masyarakat sekitar.

Fakta Ular Kobra

Istilah kobra dalam bahasa Indonesia diambil dari bahasa Inggris, cobra, yang sebetulnya juga merupakan pinjaman dari bahasa Portugis. Dalam bahasa terakhir itu, cobra merupakan sebutan umum bagi ular, yang diturunkan dari bahasa Latin colobra (colubercolubra), yang juga berarti ular.

Kobra hanya menyerang manusia bila diserang terlebih dahulu atau merasa terancam. Selain itu, kadang mereka juga hanya menggigit tanpa menyuntikkan bisa (gigitan ‘kosong’ atau gigitan ‘kering’). Maka tidak semua gigitan kobra pada manusia berakhir dengan kematian, bahkan cukup banyak persentase gigitan yang tidak menimbulkan gejala keracunan pada manusia.

Penyebab Anak Kobra Masuk Pemukiman

gambar 1 - anak kobra masuk rumah
img: Kompas

Kemunculan ular kobra yang serentak di berbagai daerah pun membuat penasaran masyarakat. Sudah pasti ada beberapa hal yang menyebabkan para anak kobra masuk ke pemukiman. Berikut ulasannya:

1. Sedang Musim Menetas

Kobra Jawa atau Naja sputatrix ini, memang di awal musim penghujan adalah musim dia menetas, setelah masa kawin di musim panas antara bulan Juni-Agustus. Induk kobra langsung pergi setelah dia bertelur.

Tidak ada parental care dalam perkembangbiakan ular kobra. Sekali bertelur, induk kobra dapat menghasilkan 10-20 butir telur dan 80 persennya bisa menetas. Telur-telur itu diletakkan di lubang tanah atau di bawah daun kering yang lembab.

2. Habitatnya Hilang

Dalam salah satu videonya, Panji Petualang mengatakan bahwa salah satu penyebab munnculnya ular kobra dalam jumlah banyak ke pemukiman disebabkan oleh hilangnya habitat ular kobra karena tergusur untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Misalnya pembukaan hutan, sawah-sawah yang menjadi habitat dialih fungsikan menjadi perumahan atau pabrik. Sehingga ular ular tersebut mencari tempat persembunyian untuk menetaskan telur mereka namun tidak menemukan tempat aman hingga akhirnya kembali ke tempat asal dan berbaur dengan manusia.

Cara Aman Evakuasi Ular Kobra

Karena di beberapa tempat, munculnya serangan kobra ini ada yang sampai menimbulkan korban, maka Panji Petualang memberikan edukasi evakuasi ular sesuai standar operasional prosedur demi keselamatan masyarakat. Berikut langkah langkah yang selalu dijabarkan Panji terkait evakuasi ular:

  1. Pastikan mengenali jenis ular, dan kadar bahayanya
  2. Pastikan keadaan lingkungan sekitar dalam keadaan aman, artinya tidak memprovokasi ular untuk melakukan serangan, maka lakukan gerakan perlahan
  3. Jangan menangkap ular menggunakan tangan kosong, terlebih untuk jenis ular berbisa. Cari alat berupa hook, tongkat, atau kayu, bisa juga menggunakan ranting
  4. Pastikan untuk menekan kepala ular terlebih dahulu, agar urat syaraf nya terjepit, setelah dirasa aman baru pegang kepala ular, dan arahkan ke bawah untuk menghindari semburan bisa ular dan serangan mendadak
  5. Masukkan kedalam wadah karung/boks yang memiliki udara agar ular tetap hidup, dan tutup rapat
  6. Bila tidak mempunyai keberanian mengambil ular yang telah dijepit menggunakan tangan, Panji juga menyarankan langkah lain yg lebih aman.
    Yaitu setelah menahan ular dengan tongkat/kayu maka ambil kayu yang mempunyai ranting dan angkat ular tersebut dan masukan kedalam wadah yang disediakan
  7. Lalu, Rescue ular tersebut kembali ke alam yang sesuai dengan habitat aslinya dan jauhkan dari pemukiman

Imobilisasi, Pertolongan Pertama pada Gigitan Ular Berbisa

Setidaknya ada 6 langkah yang jangan Anda lakukan bila digigit ular menurut Panji: jangan bawa ke dukun, jangan dihisap atau disedot, jangan ditoreh dan dikeluarkan darahnya, jangan dipijat, jangan diikat, dan jangan menggunakan obat herbal.

Panji mengedukasi masyarakat yang masih awam dalam penanganan luka akibat gigitan ular kobra yaitu dengan Imobilisasi sesuai standar prosedur keselamatan WHO.

Dilansir dari Kumparan, Tri Maharani, dokter spesialis pengobatan emergensi yang biasa menangani pasien dengan kasus gigitan hewan berbisa terutama ular, menuturkan Imobilisasi merujuk pada rekomendasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), yakni dengan cara imobilisasi atau membuat bagian tubuh yang digigit ular itu tidak bergerak.

“Caranya dengan menggunakan dua bilah kayu, bambu atau kardus serta bahan-bahan lain yang bersifat rigid atau kaku. Imobilisasi dilakukan dalam kurun waktu 24 jam sampai 48 jam,” papar Tri saat dihubungi kumparanSAINS, Selasa (17/12).

SUBSCRIBE
Subscribe sekarang dan dapatkan update terbaru melalui email
aman dari spam
Pos Lainnya

Komentar

Email kamu tidak akan dibagikan kepada siapapun

Website ini menggunakan cookie untuk pengalaman yang lebih baik Setuju & Tutup Selengkapnya