Tokoh Filsafat Islam Al-Farabi & Pemikirannya

0

Menurutnya tentang bahagia dan sengsaranya jiwa berkaitan dengan hidup pada negara utama, yakni jiwa yang kenal dengan Allah dan melaksanakan perintah Allah

Abu Nashr Muhammad ibnu Muhammad ibnu Tarkhan ibnu Auzalagh dikenal dengan Al-Farabi. Lahir pada tahun 257 H (870 M) di Wasij, Distrik Farab,Turkistan. Ayahnya merupakan seorang jenderal berkebangsaan Persia dan ibunya berkebangsaan Turki. Sesuai dengan ajaran Islam, Al-Farabi disebut keturunan Persia. Beberapa literatur menyebutkan Al-Farabi pergi ke Baghdad yang saat itu sebagai pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan dunia.

Al-Farabi belajar kaidah-kaidah bahasa Arab kepada Abu Bakar Al-Saraj dan belajar logika serta filsafat kepada seorang Kristen, Abu Baysr Mattius ibnu Yunus. Kemudian pindah ke Harran, pusat kebudayaan Yunani di Asia Kecil berguru kepada seorang bernama Yuhanna ibnu Jailan. Selama belajar Al-Farabi banyak menghabiskan waktunya untuk berdisksusi, mengarang, mengajar, dan mengulas buku-buku filsafat. Ia juga memiliki murid terkenal seorang filosof Kristen bernama Yahya ibnu Adi.

Tidak lama setelah itu, Al-Farabi pindah ke Damaskus berkenalan dengan Saif Al-Daulah Al-Hamdani, Sultan Dinasti Hamdan di Aleppo. Ia pun diajak ke Aleppo dan diberi kedudukan tinggi hingga akhirnya menghembuskan napas terakhirnya di Damaskus pada bulan Desember 950 M.

Karya Tulis Al-Farabi

Sebagai seorang Filosof Al-Farabi menguasai beberapa disiplin ilmu didukung oleh ketekunan dan kerajinannya serta kejataman otaknya.  Dalam sebuah riwayat, filosof keturunan Persia ini juga menguasai 70 bahasa. Namun riwayat ini diragukan karena bahasa yang berkembang pada masa itu tidak akan cukup sampai 70 macam bahasa.

Di dunia intelektual Islam Al-Farabi mendapatkan gelar kehormatan dengan julukan a-Mu’allim al-Sany (guru kedua). Dikarenkan Al-Farabi memiliki jasa sebagai penafsir yang baik dari logika Aristoteles. Adapun karya tulis AL-Farabi yang paling terpenting antara lain sebagai berikut.

  1. Al-Jam’bain Ra’yai al-Hakimain
  2. Tahshil al-Sa’adat
  3. Maqalat fi Aghradh ma ba’d al-Thabi’at
  4. Risalah fi Isbat al-Mufaraqat
  5. ‘Uyun al-Masa’il
  6. Ara Ahl al-Madinat Al-Fadhilat
  7. Maqalat fi Ma’any al-‘Aql
  8. Ihsa al-Ulum
  9. Fushul al-Hukum
  10. Al-Siyasat al-Madaniyyat
  11. Risalat al-‘Aql dan lain-lainnya.

Pemikiran Al-Farabi

Meski terpengaruh oleh pemikiran Aristoteles, Plato, dan Plotinus, Al-Farabi berhasil mengembangkan dan memperdalam filsafatnya. Al-Farabi menciptakan filsafat Islam yang mempunyai watak dan ciri khas tersendiri. Filsafatnya inilah yang membuat Al-Farabi dikenal sebagai peletak dasar filsafat Islam dalam artian yang sesungguhnya. Ketajaman analisisnya dan kepiawaian serta kedalaman filsafatnya dapat dilihat dari pemikiran-pemikiran berikut.

1. Rekonsiliasi

Al-Farabi dikenal sebagai filosof dengan aliran sinkreatisme yang mempercayai kesatuan filsafat. Aliran filsafat yang beragam pada hakikatnya hanya satu, yaitu sama-sama mencari kebenaran yang satu,  karena tujuan filsafat ialah memikirkan kebenaran sedangkan kebenaran itu hanya satu macam dan serupa pada hakikatnya. Pemikirannya berusaha mendamaikan pemikiran Aristoteles dan Plato yang terealisasi dalam buku yang populer dengan judul al-Jam’bain al-Ra’yat al-Hakimain dan antara filsafat dan agama.

Al-Farabi menggunakan interpretasi batini, yakni dengan menggunakan takwil bila menemui pertentangan. Alquran  dan hadis adalah hak dan benar dan filsafat juga adalah benar. Kebenaran itu tidak boleh lebih dari satu. Bagi filosof perantaranya Akal Mustafad sedangkan dalam agama perantaranya wahyu yang disampaikan kepada nabi-nabi. Kalaupun ada perlawanan hanya lahirnya saja tidak sampai pada batinnya.

Filsafat memikirkan kebenaran dan agama juga menjelaskan kebenaran. Oleh karena itu, Al-Farabi mengatakan tidaklah berbeda yang disampaikan oleh para nabi dengan kebenaran yang dimajukan filosof, dan antara ajaran agama Islam dan fislafat Yunani. Bukan berarti Al-Farabi menerima kelebihan filsafat dari agama.

2. Ketuhanan

Al-Farabi mengompromikan anatara filsafat Aristoteles dan Neo-Platonisme, yakni wujud pertama sebagai sebab pertama bagi segala yang ada (al-Maujud al-Awwal) yang tidak bertentangan dengan keesaan yang mutlak dalam ajaran Islam. Menurutnya segala yang ada ini hanya dua kemungkinan dan tidak ada alternatif yang ketiga, yakni Wajib al-Wujud dan mumkin al-wujud.

Wajib al-Wujud artinya wujudnya tidak boleh tidak mesti ada, ada dengan sendirinya, karena natur-nya sendiri yang menghendaki wujudnya. Keduanya adalah sama dan satu, inilah yang disebut dengan Allah. Sementara mumkin al-Wujud artinya sesuatu yang sama antara berwujud dan tidaknya. Tidak akan berubah menjadi wujud aktual tanpa adanya wujud yang menguatkan dan menguatakan adanya itu bukan dirinya,tetapi adalah Wajib al-Wujud (Allah). Contohnya, wujud cahaya tidak akan ada tanpa wujud matahari.Mumkin al-wujud Al-Farabi adalah wujud potensial yang pasti menjadi wujud aktual disebabkan terwujudnya yang Wajib al-Wujud.

Allah yang bersifat kadim, untuk yakin terhadap esensi wujud Allah tidak perlu menambahkan sifat-sifat tertentu pada sifat Allah. Hal ini karena pengetahuan tentang sifat Allah lebih nyata dan yakin dari pengetahuan terhadap yang selain-Nya. Allah bagi Al-Farabi adalah akal yang murni. Ia Esa adanya dan yang menjado objek pemikiran-Nya hanya substansi-Nya. Allah tidak memerlukan substansi-Nya sendiri. Allah adalah akal, substansi yang berpikir, dan substansi yang dipikirkan.

Al-Farabi terpengaruh oleh pemikiran Aristoteles yang mengatakan bahwa Allah tidak mengetahui dan tidak memikirkan alam. Pemikiran ini kemudian dikembangkan dengan mengatakan bahwa Allah tidak mengetahui yang partikular. Ayat-ayat alquran yang menyucikan Allah dari bersifat antara lain surat Al-Syura  ayat 42 dan surat Al-Shaffat ayat 180.

3. Emanasi

Aristoteles filosof Yunani mengemukakan bahwa Tuhan bukanlah pencipta alam, melainkan Penggerak Pertama. Sementara dalam doktrin ortodoks islam, Allah adalah Pencipta yang menciptakan dari tiada menjadi ada. Untuk mengislamkan doktrin tersebut, Al-Farabi mengambil doktrin Neoplatonis monistik tentang emanasi. Tuhan Penggerak Aristoteles berubah menjadi Allah Pencipta, yang menciptakan alam sejak azali, materi alam berasal dari energi yang kadim, sedangkan susunan materi yang menjadi aalam adalah baharu.

Allah Mahasempurna, tidak memikirkan dan berhubungan dengan alam karena terlalu rendah bagi-Nya untuk memikirkan dan berhubungan dengan alam yang tidak sempurna. Allah memikirkan antara ‘Aql dan fikr dalam terminologi alquran, maka terciptalah energi yang maha dahsyat secara pancaran dari energi inilah terjadinya Akal Pertama.  

Akal Pertama berfungsi sebagai mediator antara Yang Maha Esa dan yang banyak sehingga dapat dihindarkan hubungan langsung antara Yang Maha Esa dan yang banyak. Emanasionisme ini dikombinasikan dengan sistem kosmologi Platomeus sehingga menimbulkan kesan Al-Farabi mengalihbahasakan dari bahasa sebelumnya ke dalam bahasa Arab.  Struktur emanasi Al-farabi dipengaruhi oleh temuan saintis , yakni sembilan planet dan satu bumi.

4. Kenabian

Motif lahirnya pemikiran Kenabian, Al-Farabi disebabkan adanya pengingkaran terhadap eksistensi kenabian secara filosofis oleh Ahmad ibnu Ishaq Al-Ruwandi. Tokoh yang berkebangsaan Yahudi, menurunkan beberapa karya tulis yang isinya mengingkari kenabian pada umumnya dan kenabian Muhammad Saw. khususnya. Al-farabi merupakan filosof Muslim pertama yang mengemukkan filsafat kenabian secara lengkap berdasarkan psikologi dan metafisika yang berhubungan dengan ilmu politik dan etika.

Kenabian merupakan asas sentral dalam agama. Menurut Al-Farabi, manusia dapat berhubungan dengan Jibril melalui dua cara, yakni penalaran atau perenungan dan imajinasi atau inspirasi (ilham). Cara pertama hanya dilakukan oleh filosof yang dapat menembus alam materi dan dapat mencapai cahaya ketuhanan, sedangkan cara kedua hanya dapat dilakukan oleh nabi.

Ilham-ilham kenabian hanya terjadi waktu tidur dan waktu bangun.  Ciri khas seorang nabi, mempunyai daya imajinasi yang kuat ketika berhubungan dengan Jibril maka dapat menerima visi dan kebenaran-kebenaran dalam bentuk wahyu. Sedangkan filosof dapat berkomunikasi dengan Allah melalui akal perolehan  yang telah terlatih dan kuatt daya tangkapnya sehingga sanggup menangkap hal-hal yang bersifat abstrak murni dari Akal Kesepuluh (Jibril).

 Akal ini mempunyai kekuatan suci yang diberi nama hads. Tidak ada akal yang lebih kuat daripada demikian dan hanya nabi-nabi yang memperoleh akal itu. Sementara filosof dapat berhubungan dengan Akal Kesepuluh adalah suaha sneidri melalui latihan dan pemikiran. Dengan demikian, filosof tidak dapat menjadi nabi, yang selamanya menjadi nabi adaah manusia pilihan Allah.

5. Negara Utama

Al-Farabi hidup pada masa pemrintahan yang otonom di bawah pemerintahan Sultan Saif Al-Daulah. Pemikiran Negara Utama ini erat kaitannya dengan situasi yang berkembang dan terjadinya kegoncangan politik pada Daulat Bani Abbas di abwah tekanan Kahlifah Al-Radi, Muttaqi , dan Mustafki. Istilah ini meminjam istilah Guillaum, sikap para penguasa Baghdad yang disebut raja ketimbang khalifah.

Seorang filosof belum merasa puas sampai pada hakikatnya, yakni dasar dari segala dasar. Tujuan utama filsafat pemerintahan Al-Farabi  adalah kebahagiaan hidup manusia. Menurutnya manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat hidup dengan berdiri sendiri. Manusia hidup dengan bermasyarakat dan bantu membantu demi kepentingan bersama dalam mencapai tujuan hidup, yakni kebahagiaan. Sifat dasar ilmiah inilah yang mmebuat manusia hidup bermasyarakat dan bernegara.

Al-Farabi menggolongkan masyarakat dalam dua bagian, yakni masyarakat sempurna dan masyarakat tidak sempurna. Masyarakat sempurna ialah masyarkat dengan kelompok besar bisa berbentuk masyarakat kota, masyarakat terdiri dari bangsa yang bersatu, dan bekerja sama sevara internasional. Sementara masyarakat tidak sempurna adalah masyarakat dalam satu keluarga atau masyarakat se desa. Menurutnya masyarakat terbaik adalah masyarakat yang dapat bekerja sama, saling membantu untuk mencapai kebahagiaan. Masyarakat inilah yang dinakaman dengan masyarakat utama atau negara utama.

Negara utama sebagai masyarkat yang paling sempurna, terdiri dari warga yang berbeda kemampuan dan fungsinya, hidup slaing membantu. Fungsi utama pemikiran ini adalah kepala negara serupa fungsi jantung dalam tubuh manusia. Oleh karena itu, idelanya seorang kepala negara adalah nabi (rasul) atau filosof.

Pemberdayaan manusia dalam satu negara sesuai dengan kemampuannya. Tujuan yang hendal dicapai ialah kebahagiaan dunia dan akhirat. Peranan pemerintah sangat menentukan karena fungsinya sebagai penyelenggara negara dalam urusan material rakyat yang dimpimpinnya. Sebagai pendidik dan pengajar rakyat dalam urusan spiritual.

6. Jiwa

Jiwa disebut dengan al-nafs al-nathiqah, berasal dari alam Ilahi, sedangkan jasad berasal dari alam khalq, berbentuk, berupa, berkadar, dan bergerak. Menurut Al-Farabi, jiwa manusia mempunyai daya-daya sebagai berikut.

  1. Daya gerak (al-Muharrikat ), yang dapat mendorong untuk makan, memelihara, dan berkembang.
  2. Daya mengetahui (al-Mudrikat), yang dapat mendorong untuk merasa dan berimajinasi.
  3. Daya berpikir (al-Nathiqat), yang mendorong untuk berpikir secara praktis.

Secara teoritisnya, akal dibagi meenjadi tiga macam, yakni akal potensial, akal aktual, dan akal mustafad. Adapun penjelasannya sebagai berikut.

  1. Akal Potensial (al-Hayulany), ialah akal yang baru mempunyai potensi berpikir dalam arti melepaskan alat-alat atau bentuk-bentuk dari materinya.
  2. Akal Aktual (al-‘Aql bi al-fi’l), ialah akal yang telah dapat melepaskan arti-arti dari materinya, arti-arti itu telah memiliki wujud dalam akal dengan sebenarnya.
  3. Akal Mustafad (al-‘Aql al-Mustafad), akal yang dapat menangkap bentuk semata-mata yang tidak berkaitan dengan materi dan memiliki kesanggupan untuk mengadakan komunikasi dengan Akal Kesepuluh.

Menurutnya tentang bahagia dan sengsaranya jiwa berkaitan dengan hidup pada negara utama, yakni jiwa yang kenal dengan Allah dan melaksanakan perintah Allah, maka jiwa ini akan kembali hiudp dan abadi dalam kebahagiaan. Sementara jiwa yang hidup pada negara jahiliah, yakni jiwa yang tidak kenal sama sekali dengan Allah dan tidak pernah melaksanakan perintah Allah.

7. Akal  

Menurut Al-Farabi, Akal terbagi menjadi tiga jenis, yakni Allah sebagai akal, akal-akal dalam filsafat dan emanasi , dan akal yang terdapat pada diri manusia. Akal pertama dan kedua tidak bersifat fisik dan tidak menempati fisik. Akal Pertama, Allah sebagai Maha Sempurna karena sifat khalik yang ada pada Allah.

Akal-akal filsafat dan emanasi termasuk ke dalam Akal Kesepuluh yang melipahkan kebenaran kepada  nabi dan filosof yang berfungsi mengurusi bumi dan segala isinya. Akal yang terdapat pada diri manusia sebagai daya berpikir yang terdapat pada jiwa manusia. Akal ini tidak berfisik tetapi bertempat pada materi.

Artikel Lainnya
Komentar

Email kamu tidak akan dibagikan kepada siapapun

Website ini menggunakan cookie untuk pengalaman yang lebih baik Setuju & Tutup Selengkapnya