Pada hari Sabtu, 21 Maret 2020 World Health Organization (WHO) memberikan pernyataan bahwa mereka begitu menyayangkan orang-orang menggunakan istilah social distancing dalam upaya pencegahan penyebaran COVID-19. WHO mengajak semua orang untuk mengganti istilah social distancing dengan physical distancing.

WHO bersedia untuk memberikan pemahaman yang jelas mengenai arahan dari pemerintah untuk tetap di rumah di tengah wabah COVID-19. Hal itu bukan berarti orang-orang harus memutuskan kontak sosial dengan keluarga dan teman-teman, akan tetapi orang-orang harus menjaga jarak fisik satu sama lain agar penyakit tersebut tidak menyebar luas.

Dalam upaya mencegah penyebaran COVID-19, WHO menghimbau pemerintah di seluruh dunia agar memberitahu masyarakatnya untuk menghindari pertemuan publik.

Seperti halnya di Bhutan, orang yang datang masuk ke negara itu perlu dikarantina sekurang-kurangnya selama 2 minggu, sekolah dan perguruan tinggi telah ditutup, pusat-pusat hiburan dan pub diminta untuk menunda operasi dalam waktu yang telah ditentukan, dan acara yang menarik banyak orang harus dibatalkan atau ditunda.

Sebelumnya, langkah-langkah ini dikenal dengan istilah jarak sosial (social distancing). Untuk sekarang dan seterusnya, WHO mengatakan lebih baik menggunakan istilah physical distancing ( jarak fisik) dan bukan social distancing (jarak sosial). WHO menjelaskan alasan pergantian istilah ini di laman resminya.

“Tapi yang ingin saya tekankan disini adalah jarak fisik. Saya mengatakan itu karena beberapa orang yang berada di tempat karantina memerlukan interaksi sosial. Sekarang interaksi mudah bisa melalui media sosial. Berdasarkan definisi, interaksi sosial dapat dilakukan dengan menggunakan media sosial. Itulah yang kami maksud dengan jarak fisik,” kata Dr. Rui Paulo de Jesus, perwakilan WHO dari Bhutan.

Pertanyaannya sekarang adalah apakah sains di balik itu semua? Mengapa seseorang harus menjaga jarak fisik selama berinteraksi dengan orang-orang? Atau mengapa orang-orang harus berkata “iya” untuk dikarantina?

“Penyakit ini menular dari satu orang ke orang lain melalui cipratan ketika Anda batuk, cipratan itu mengandung virus. Berdasarkan ilmu sains, ketika Anda batuk atau bersin, virus tersebut tidak akan pergi lebih dari satu meter atau tiga kaki. Jadi, jarak fisik adalah ketika kita berinteraksi dengan orang-orang, kita perlu menjaga jarak minimal 1 meter. Hal-hal lainnya seperti penutupan sekolah, menghindari pertemuan publik sebenarnya langkah dasar yang sederhana dari ilmu sains tersebut. Itulah sebabnya pemerintah mengambil langkah yang sangat tepat untuk mencegah pertemuan publik”, tambahnya.

Sebuah penilaian yang dilakukan oleh WHO menyimpulkan bahwa satu orang yang terkena dampak virus tersebut memiliki potensi untuk menginfeksi antara 2 hingga 3 orang. Hal itu bisa dicegah apabila orang-orang melakukan jarak fisik.

“Anda lihat apa yang terjadi di Tiongkok. Mereka mengunci seluruh kota dengan 10 atau 11 juta orang di dalamnya. Jadi, orang-orang tidak berinteraksi dan Anda lihat bahwa sampai kemarin tidak ada kasus baru di kota itu. Jadi itu menunjukkan bahwa jarak fisik sebenarnya bekerja dengan baik”, tambahnya lebih lanjut.

Negara-negara di seluruh dunia menganggap serius tentang menjaga jarak dengan banyak negara yang melakukan penutupan total karena jumlah kasus yang terinfeksi melonjak setiap hari. Dan sains tidak memiliki jawaban berapa lama itu akan bertahan. Di negara seperti Inggris, penasehat ilmiah pemerintah mengatakan bahwa jarak fisik akan diperlukan setidaknya setengah tahun.

[zombify_post]